yang mengikuti saya

Wednesday, July 26, 2017

Ketika Kinara dan Kinari Terbang Ke Dunia Nyata

           
          
Patung Kinari di tepi Wat Rong Khung
Sumber: koleksi pri
badi

Menurut mitos agama Budha, Kinara dan Kinari merupakan makhluk setengah burung setengah manusia. Menurut sebuah sumber, pernah suatu ketika kedua makhluk ini terpisahkan dan menangis hingga mengacaukan  nirwana. Kemudian mereka dipertemukan di bawah pohon kehidupan, Kalpataru.  Kinara dan Kinari pun terbang ke dunia nyata sebagai simbol kasih sayang antarmakhluk hidup dan dapat ditemukan melalui ukiran patung maupun pahatan relief.
            Kinara yang senantiasa digambarkan simbol keperkasaan dan kejantanan pun masih merasa rapuh bila dipisahkan oleh Kinari yang lembut dan jelita. Pun demikian sebaliknya. Keduanya di bawah naungan Kalpataru terpahat abadi sejak abad kedelapan di candi-candi Budha di Magelang seperti Borobudur, Pawon dan candi Mendut.
Patung KInara di Wat Phra Keuw
Sumber: wikipedia
            Tidak hanya dipahatkan berupa relief, Kedua makhluk ini diukir dalam bentuk patung di halaman vihara Mendut. Selain itu bisa ditemukan di beberapa kuil Budha seperti  Thailand, Vietnam, Cambodia dan Myanmar. Di Thailand, misalnya, dua patung Kinari nampak elok diukir oleh seniman Chalermchai Kositpipat  dan menambah hidup suasana taman Wat Rong Khun. Di negeri gajah putih ini pun bisa ditemukan patung Kinara dengan warna emas di Wat Phra Keuw.

            Yang tak kalah unik adalah relief kedua makhluk ini pun ditemukan di candi Prambanan, candi Hindu kuno terbesar  di Indonesia. Oleh sebab itu tak mengherankan jika makhluk ini tak hanya dikenal di mitologi agama Budha, tetapi juga agama Hindu. Dan mereka sepakat bahwa keduanya merupakan simbol kasih sayang.
Petuah Kinara dan Kinari
            Dalam  dunia sastra, terutama sastra anak sangat penting kehadiran kedua makhluk mitos ini sebagai simbol kasih sayang. Sebab itulah sejatinya mengapa kita, bangsa Indonesia, terlahir di antara perbedaan suku, agama, ras dan adat istiadat. Seyogyanya,  perbedaan itu berfungsi sebagai penambah kasanah kekayaan dan kebanggaan kita.
Kain cenderamata Motif Kinara dan Kinari
Sumber: http://www.goldkangaroomyanmartravels.com
            Saya berpikir, mungkin dasar kasih sayang lah yang menginspirasi para kreator relief Kinara dan Kinari di candi-candi kuno di tanah Jawa. Dasar yang juga dipakai oleh kreator patung-patung kedua makhluk ini di negara Burma dan Thailand. Oleh sebab itu, saya pun tak mau tertinggal meniupkan roh keduanya ke dalam cerita pendek Petuah Kinara dan Kinari.
           Saya melihat, ketika masih kecil, guru agama mengajarkan bahwa agama merupakan tali kasih Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, dan bukan sebaliknya. Sejarah mencatat Animisme dan Dinamisme merupakan kepercayaan nenek moyang sebelum agama-agama besar masuk. Namun, ada beberapa pihak yang memanfaatkan agama tersebut untuk memecah belah. Ini bukan saja dilakukan oleh penjajah di masa lalu untuk menghancurkan persatuan kita yang bersuku-suku. Dari sini, saya terinspirasi menulis Petter Anderson, seorang hantu anak Belanda yang selalu hadir mengajarkan kecintaan pada negeri ini kepada siswa-siswa sekolah di Jogjakarta. Cerita ini pernah dimuat di majalah Bobo pada tahun 2003.

            Selain kedua cerita di atas, saya juga bercerita tentang pentingnya untuk berpikir positif kepada orang lain. Saya juga menyertakan ‘Croissant Persahabatan dari Madame Yves’, sebuah kisah yang mengajarkan bahwa orang yang tampak galak belum tentu pada kenyataanya. Siapa tahu dia adalah orang yang sangat perhatian kepada kita. Seperti Madame Yves yang mengawali persahabatan dengan kedua anak pengunjung perpustakaan melalui kue khas prancis, Croissant.
Petuah Kinara KInari (Kumpulan Cerita Pendek Anak-Anak)
Sumber: goodreads.com



Buku kumpulan cerita anak ini sebenarnya bukan untuk mengajari, namun lebih tepatnya belajar bersama. Kita belajar bersama tentang kenyataan bahwa kita dilahirkan di sebuah negeri yang berbeda-beda suku, agama, ras dan adat istiadat. Oleh sebab itu tidak ada alasan untuk saling menyayangi satu sama lain. Baiklah, tidak mengapa  jika pernah terjadi perseteruan di masa lalu, seperti saling perang status di akun-akun  media sosial. Yang terpenting adalah saatnya membangun persatuan untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik. 
oleh: Helmi Laksono