yang mengikuti saya

Tuesday, June 27, 2017

Villa, Petuah Kinara-Kinari, Panti Asuhan Hindu Dalam Sebuah Kisah di Bulan Ramadhan

Hari sabtu, tanggal 17 Juni 2017 lalu, merupakan hari yang sangat mengesankan bagi saya. Salah seorang kawan, sebut saja bapak Angga, mengajak berkunjung ke panti asuhan Dharma Jati II di Penatih, Denpasar. Pak Angga ini merupakan kawan saya sewaktu bekerja di Mercure Resort Sanur tahun 2011-2013. Dunia hospitality mempertemukan kami kembali, kali ini dalam rangka kegiatan sosial.
            Jadi begini ceritanya, pak Angga kini bekerja sebagai operational manager di Lalasa Villa, Canggu. Sebuah Villa yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang peduli dengan kegiatan sosial, yaitu kunjungan ke panti asuhan. Sesuai permintaan pemilik villa, setiap kunjungan harus beda panti dan lintas agama, seperti kunjungan ke panti asuhan kristiani (kunjungan pertama dan kedua). Dan kunjungan panti asuhan Hindu Dharma Jati II kali ini merupakan kali ketiga bagi beliau.
            Saya berpikir, partisipasi apa yang bisa saya lakukan. Kemudian saya teringat karya saya berjudul Petuah Kinara danKinari yang diterbitkan oleh IBC. Saya menghubungi penerbit untuk dicetakkan sepuluh buku dan mengirimkannya ke Bali via pos kilat. Tepat dua hari sebelum kegiatan, sepuluh buku sudah sampai.
            Hari sabtu, saya mengajak salah seorang kawan lagi di tempat bekerja yang baru, sebut saja namanya kak Titin. Lalu kami pun menuju Lalasa Villa dan bertemu pak Angga disana. Kemudian berangkat bersama pada jam 10.30 pagi.
Kak Titin, Saya, pak Angga dan tim Lalasa Villa,
 Pak I Wayan Nika
dan anak anak asuh Panti Asuhan Dharma Jati, Penatih
            Kami disambut anak-anak asuhan panti begitu tiba di sebuah rumah. Rumah yang asri dengan tanaman-tanaman merimbuni kanan-kiri jalan yang kami lewati. Rumah ini bergaya khas Bali dan memiliki sebuah hall yang lumayan lapang. Disana terdapat beberapa alat permainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, sepeda statis, dan yang mebuat saya bertanya-tanya adalah alat angkat besi.
Saya juga mendapati foto seorang jenderal TNI, lalu yang membuat bertanya-tanya adalah dua foto orang penting. Pertama,  foto mantan presiden Suharto yang sedang memberi sebuah penghargaan kepada seorang lelaki dengan tulisan: Penghargaan Satya Lencana. Kedua, foto mantan presiden Megawati Soekarnoputri yang mengepalkan tangan seolah memberi semangat kepada anak-anak bersama lelaki yang sama dengan foto sebelumnya. Lalu, pertanyaan saya, siapakah lelaki itu?
            Beliau adalah I wayan Nika, seorang guru yang mendirikan  panti asuhan ini. SEORANG GURU berhati mulia, rela menyisihkan gajinya, untuk mengasuh anak-anak yang bukan darah dagingnya  semenjak tiga puluh dua tahun yang lalu.
            Saya bertanya-tanya apa motivasi beliau mengasuh anak-anak tersebut. Beliau menjawab, “ya, saya melihat banyak anak-anak di Bali ini membutuhkan pertolongan. Sedangkan, saat itu, yang mau mengulurkan bantuan adalah pemeluk agama lain. Kenapa, saya sebagai tuan rumah di Bali, tidak mengambil tindakan serupa. Jadilah panti asuhan ini, hahahaha....”
            Saat itu umur pak Wayan Nika belumlah menginjak kepala empat. Tapi kepala beliau sudah diisi dengan segala rencana-rencana mulia. Sejak awal tahun 1980-an, beliau mengumpulkan anak-anak. Soal dana, beliau mengungkapkan bahwa ada saja jalan jika kita berniat tulus. Entah itu dari sumbangan donatur, entah itu penghasilan pribadi yang tidak disangka-sangka. Beliau juga tak jarang memberikan gajinya sebagai guru untuk menyokong kebutuhan anak-anak asuhnya.
            Tanda tanya saya tentang keberadaan alat latihan angkat besi di hall terjawab, pak Wayan Nika melatih angkat besi. Salah satu anak asuh telah mengukir prestasi hingga tingkat dunia dan sudah tidak perlu diasuh karena sudah ditanggung oleh negara. Beberapa anak asuhnya bahkan  berhasil mengenyam pendidikan tinggi bahkan hingga S2. “Ada pengalaman lucu, saya pernah bertemu seorang polisi di jalan dan tiba-tiba polisi itu menyalami saya sambil bertanya, bapak masih ingat saya? Rupanya itu anak asuh saya, hahahhaa....” tutur I Wayan Nika membuat kami turut tertawa.
            Kunjungan ini memang menyenangkan. Namun, di balik cerita sukses I Wayan Nika sebagai bapak asuh juga terdapat kisah-kisah duka, seperti anak-anak yang bandel. Saya baru tahu, tidak semua anak asuh I Wayan Nika merupakan yatim piatu. “Mereka ada yang memiliki orang tua, tetapi tidak mampu mengasuh karena alasan ekonomi. Saya coba bantu. Tapi kalau bandel, dan mengancam anak-anak asuh yang lain, ya, saya kembalikan. Mungkin anak bandel itu memang bukan disini tempatnya.”  Selain itu godaan sejumlah uang yang sangat fantastis pun sering menyambangi. Ada beberapa telpon yang menawarkan sejumlah besar imbalan untuk mengadopsi anak asuh, tapi ditolaknya. Bahkan pernah mendapatkan fitnah yang sangat keji pun pernah beliau hadapi.
            Segala rintangan tersebut tidak menyurutkan semangat I Wayan Nika untuk mengasuh anak kurang beruntung. Berkat kegigihan tersebut, beliau mendapat penghargaan Satya Lencana dari almarhum  Presiden RI kedua, Soeharto. Kemudian pernah diundang oleh presiden keempat RI, Megawati Soekarnoputri,  di sebuah acara makan malam. Itu belum penghargaan-penghargaan dari berbagai kalangan dalam dan luar negeri.
            Saya sangat senang bisa bertemu tokoh seperti I wayan Nika. Beliau sangat rendah hati meskipun penghargaan-penghargaan telah diterima. Bahkan, beliau tampak antusias menerima buku Petuah Kinara dan Kinari Kumpulan Cerita Anak sebagai bahan bacaan  anak-anak asuhnya.
            Beliau bahkan mengajak kami melihat kelas Kejar Paket yang biasa digunakan anak-anak asuh belajar. Ada perpustakaan mini di sampingnya. “Mas kan penulis, boleh ambil satu buku, mana tahu bisa memberi ide membuat buku anak-anak lagi hehehe....” Kami hanya tertawa.
            Padahal pak Wayan Nika serius hendak memberi. Semangat memberi dan mengasihi tanpa mengharap imbalan  memang sudah tertanam pada pria berusia 71 tahun ini. Buktinya sudah duaribuan anak  sudah diasuhnya. Jangankan minta imbalan kepada mereka, satu dari wajah mereka pun sudah lupa....
            Hari sabtu, tanggal 17 Juni 2017, memang hari keberuntungan bagi saya bisa bertemu orang sehebat  pak Wayan Nika.
           
           
           


No comments:

Post a Comment