yang mengikuti saya

Wednesday, June 28, 2017

Karya Seni Tentang Keanekaragaman Berkat Pariwisata

Saya mengenal dunia pariwisata pertama kali melalui paman saya, namanya pak Muhammad. Dulu sekali, saat masih kecil, saya ingat paman saya memberi pulpen dengan bentuk yang tidak biasa, jarang ditemukan di warung maupun toko perlengkapan sekolah. Lalu, saya bertanya darimana beliau mendapatkannnya. Alih-alih menjawab, paman saya justru mengambil sebuah album foto.
            Album foto yang cukup besar. Beliau pun membukanya halaman demi halaman. Saya diperlihatkan foto-foto orang-orang berambut pirang, yang hanya bisa saya lihat di televisi. Saya ingat, umur saya masih tujuh tahun saat itu. Tidak cukup sampai disitu, paman saya memamerkan setumpuk kartu pos yang ditulis dengan tangan dengan bahasa yang saya tidak mengerti. Bahasa Belanda.
            Bukan bahasanya yang menarik perhatian, melainkan perangkonya yang benar-benar beda dengan perangko umumnya. Tidak hanya dari Belanda, paman saya mendapat kiriman kartu pos dari sahabat-sahabatnya dari Prancis, dan Jepang. Saya tanya apa pekerjaan beliau, rupanya seorang pemandu wisata.
            Paman saya tidak belajar secara khusus sebagai pemandu wisata. Beliau belajar otodidak bahasa Belanda dengan menggunakan kamus-kamus mungil dan mencoba terus berkomunikasi dengan pemandu wisata maupun turis Belanda. Akhirnya ia benar-benar bisa berbahasa Belanda. Bahkan bicara bahasa Jawa pun kadang mirip bicara bahasa Belanda, cadel-cadel aneh dan sulit dimengerti pelafalannya.
            Betapa senangnya saya mendapatkan sebuah kamus Indonesia-Belanda, setumpuk kartu pos dengan perangko-perangko uniknya, dan Guidebook yang tidak saya mengerti bahasanya namun menarik gambar-gambarnya. Saya bahkan dikasih tahu, bagaimana mendapatkan perangko-perangko itu.
            Begini caranya: pelajari bahasanya. Saya mengira semua turis berbahasa Inggris. Maka saya pun belajar bahasa Inggris dengan semangat. Bahkan ketika lulus SD, saya memutuskan melanjutkan ke SMP dekat  candi Borobudur. Saya orangnya tidak sabaran, dengan bahasa Inggris level dasar, saya nekad ke candi Borobudur. Saya praktik bahasa inggris lalu saying good bye kalau tidak mengerti apa yang dikatakan turis-turis asing. Waktu itu penjagaan candi Borobudur tidak seketat sekarang, saya bisa masuk melalui pagar belakang yang lebar-lebar. Kadang-kadang, pedagang cenderamata membawa saya masuk dengan mengaku sebagai orangtua, kakak, atau saudaranya.
            Saya menggunakan cara tersebut hingga SMA. Sebab, setelah SMA, penjaganya mulai galak-galak. Saya pun menggunakan kartu pelajar dan mendapat diskon tiket masuk. Saya harus menghindari hari sabtu dan minggu, serta siang hari. Sebab waktu-waktu itu, turis asing sangat jarang. Lalu, saya mulai mendapat kenalan dan saya tidak mengerti mengapa mereka memberi saya alamat e-mail. Saat itu, internet masih eksklusif untuk kalangan tertentu di kota sana. Jadi saya minta alamat mereka, dengan dahi berkerut kerut mereka menolak.
            Saya justru mendapatkan sahabat pena di bus sepulang sekolah. Dan, saya baru sadar tidak semua turis asing mahir berbahasa inggris. Jadi kami bercakap memakai bahasa isyarat dan gambar. Bukan karena dia cacat. Dia turis dari Jepang. Lalu kami pun bersahabat pena. Yeah, saya mendapat perangko dari jepang yang unik-unik.
            Lalu selulus SMA, saya melanjutkan bahasa Prancis. Karena saya menyadari tidak semua turis asing berbahasa Inggris. Selulus kuliah, saya mendapat sms dari salah seorang kawan bernama Teteh Lisa. Intinya tawaran menjadi guide bahasa prancis. Lalu, saya pun mikir mikir. Kelamaan mikir, job itu sudah melayang ke orang lain. Akhirnya, nomor saya mendarat di handphone mbak Maria Dewata Sakti Tour and Travel yang memiliki kerjasama dengan Asia Voyages. Tetiba saja saya mendapat tawaran tour Jogja-Jawa Tengah. Saya sendiri tidak percaya, dua tamu saya memberikan nilai sangat bagus sebagai tour guide. Ini berkat sopir yang mengangkut kami, beliau mengajari saya bagaimana menjadi guide yang baik (tidak melulu menjelaskan secara detail tentang obyek wisata tetapi juga menambah pengetahuan. Mungkin bagi kita biasa, namun bagi turis prancis sangat luara biasa. Misal: asal muasal beras, sebagian dari mereka tidak tahu kalau beras berasal dari gabah. Buktinya tamu saya sampai menjerit-jerit menangis karena takjub gabah yang dikupasnya memunculkan sebiji beras).
            Karena menjadi guide di  Jawa sangat bergantung dengan musim, maka saya memutuskan ke pusat para turis berlibur, barometer pariwisata di negara ini, yaitu pulau Bali. Awalnya, saya berniat mengikuti training sebagai guide, tapi karena guide senior menolak trainee, maka saya pun gagal menjadi guide. Namun, saya sudah bertekad bulat ke Bali. Lalu saya ditawari salah seorang kawan yang kebetulan mendapat lowongan Guest Relation French Speaking di salah satu boutique hotel di Tanjung Benoa.
            Perjalanan ke dunia wisata ini bagi saya sangat unik. Mulai dari ketertarikan saya akan pulpen dan perangko yang lain dari biasanya milik paman saya hingga melanjutkan kuliah S2 pariwisata di Universitas Udayana. Secara tidak sadar,  pariwisata mengajari saya banyak hal. Misalnya dari segi bahasa, tidak semua turis asing bisa dan mau berbahasa Inggris. Kedua, kedaatangan wisatawan asing di Indonesia memiliki musim, maka dikenal high season, peak season, dan low season. Ketiga, tidak semua turis asing itu kaya raya dan punya uang yang cukup, sebab ada beberapa yang main kabur dengan meninggalkan tagihan di hotel. Keempat, budaya kita sangat beragam dan dikagumi oleh bangsa luar hingga rela jauh-jauh mengunjungi negeri kita tercinta. Banyak lagi sebenarnya yang saya dapatkan dari pariwisata.

            Munculnya berbagai konflik-konflik, contoh kecil: saling unfriend di media sosial gara-gara berbeda pandangan mengusik saya. Si A memasang status yang menyakitkan hati si B. Si C berbeda pandangan dengan si D. Lalu saling adu pandangan hingga merangsek masuk ke wilayah SARA dan berujung saling blok di media sosial. Parahnya, pemilik akun-akun tersebut bukanlah anak kemarin sore. Melainkan mereka yang bertitel pendidikan tinggi.
            Padahal, pariwisata telah mengajari saya bahwa keberagaman bahasa, budaya, suku, agama dan lain sebagainya merupakan daya tarik. Sesuatu yang harusnya mengajari kita saling bertenggang rasa. Jadi, saya menulis sebuah buku untuk anak-anak, meskipun sering orang dewasa menyukai tulisan saya. Buku ini terdiri atas delapan cerita pendek anak-anak.
            Judul buku ini adalah Petuah Kinara dan Kinari Kumpulan Cerita Pendek Anak-anak. Saya memang menyukai menulis cerita anak-anak. Sebab hanya melalui cerita anak, saya masih bisa punya harapan untuk mengajak menghormati orang lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Selain itu, penghargaan terhadap para pahlawan yang memperjuangkan kemerdakaan Republik ini juga saya tuliskan dalam bentuk cerita dalam buku ini. Kinara Kinari sendiri merupakan makhluk mitos yang direliefkan berupa makhluk setengah burung setengah manusia di pohon kehidupan Kalpataru. Konon, kedua mahkluk ini merupakan simbol kasih sayang. Mereka  menangis dan saling mencari ketika dipisahkan hingga bertemu di bawah pohon kehidupan. Relief kedua makhluk ini saya temukan di candi Prambanan (candi Hindu) , candi Sewu (candi Budha), candi Pawon (candi Budha)  dan candi Mendut (candi Budha). Sebenarnya, kisah-kisah dalam buku ini sebagian besar saya dapatkan selama bekerja di dunia pariwisata. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika cerita-ceritanya berkisah tentang toleransi akan keberagaman.
Album ‘Kesempatan’ karya General Manager hotel
       Rupanya, saya tidak seorang diri. Seorang general Manager (GM) hotel tempat bekerja sebelumnya pun  membuat sebuah album dengan judul Kesempatan. Sebut saja namanya pak Ale. Di sela-sela kesibukannya di dunia perhotelan, beliau masih saja sempat memikirkan anak-anak kurang beruntung. Mengetahui bahwa passionnya di alat-alat musik dan segala sesuatu berkaitan dengan musik, beliau pun menciptakan lagu-lagu. Bekerjasama dengan beberapa musikus tanah air, beliau mempersembahkan album ini untuk kegiatan charity dan bukti kecintaannya terhadap Indonesia.  Salah satu lagu dalam album ini berjudul I Love Indonesia.





           

Saya melihat pariwisata di masa depan akan menjadi jembatan untuk memahami keragaman bagi antar bangsa. Semoga semakin banyak pelaku di industri pariwisata, tidak memandang level jabatan, yang giat berkarya sesuai hobby maupun passionnya demi terciptanya pemahaman yang lebih mendalam tentang perbedaan.  

                        

Tuesday, June 27, 2017

Villa, Petuah Kinara-Kinari, Panti Asuhan Hindu Dalam Sebuah Kisah di Bulan Ramadhan

Hari sabtu, tanggal 17 Juni 2017 lalu, merupakan hari yang sangat mengesankan bagi saya. Salah seorang kawan, sebut saja bapak Angga, mengajak berkunjung ke panti asuhan Dharma Jati II di Penatih, Denpasar. Pak Angga ini merupakan kawan saya sewaktu bekerja di Mercure Resort Sanur tahun 2011-2013. Dunia hospitality mempertemukan kami kembali, kali ini dalam rangka kegiatan sosial.
            Jadi begini ceritanya, pak Angga kini bekerja sebagai operational manager di Lalasa Villa, Canggu. Sebuah Villa yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang peduli dengan kegiatan sosial, yaitu kunjungan ke panti asuhan. Sesuai permintaan pemilik villa, setiap kunjungan harus beda panti dan lintas agama, seperti kunjungan ke panti asuhan kristiani (kunjungan pertama dan kedua). Dan kunjungan panti asuhan Hindu Dharma Jati II kali ini merupakan kali ketiga bagi beliau.
            Saya berpikir, partisipasi apa yang bisa saya lakukan. Kemudian saya teringat karya saya berjudul Petuah Kinara danKinari yang diterbitkan oleh IBC. Saya menghubungi penerbit untuk dicetakkan sepuluh buku dan mengirimkannya ke Bali via pos kilat. Tepat dua hari sebelum kegiatan, sepuluh buku sudah sampai.
            Hari sabtu, saya mengajak salah seorang kawan lagi di tempat bekerja yang baru, sebut saja namanya kak Titin. Lalu kami pun menuju Lalasa Villa dan bertemu pak Angga disana. Kemudian berangkat bersama pada jam 10.30 pagi.
Kak Titin, Saya, pak Angga dan tim Lalasa Villa,
 Pak I Wayan Nika
dan anak anak asuh Panti Asuhan Dharma Jati, Penatih
            Kami disambut anak-anak asuhan panti begitu tiba di sebuah rumah. Rumah yang asri dengan tanaman-tanaman merimbuni kanan-kiri jalan yang kami lewati. Rumah ini bergaya khas Bali dan memiliki sebuah hall yang lumayan lapang. Disana terdapat beberapa alat permainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, sepeda statis, dan yang mebuat saya bertanya-tanya adalah alat angkat besi.
Saya juga mendapati foto seorang jenderal TNI, lalu yang membuat bertanya-tanya adalah dua foto orang penting. Pertama,  foto mantan presiden Suharto yang sedang memberi sebuah penghargaan kepada seorang lelaki dengan tulisan: Penghargaan Satya Lencana. Kedua, foto mantan presiden Megawati Soekarnoputri yang mengepalkan tangan seolah memberi semangat kepada anak-anak bersama lelaki yang sama dengan foto sebelumnya. Lalu, pertanyaan saya, siapakah lelaki itu?
            Beliau adalah I wayan Nika, seorang guru yang mendirikan  panti asuhan ini. SEORANG GURU berhati mulia, rela menyisihkan gajinya, untuk mengasuh anak-anak yang bukan darah dagingnya  semenjak tiga puluh dua tahun yang lalu.
            Saya bertanya-tanya apa motivasi beliau mengasuh anak-anak tersebut. Beliau menjawab, “ya, saya melihat banyak anak-anak di Bali ini membutuhkan pertolongan. Sedangkan, saat itu, yang mau mengulurkan bantuan adalah pemeluk agama lain. Kenapa, saya sebagai tuan rumah di Bali, tidak mengambil tindakan serupa. Jadilah panti asuhan ini, hahahaha....”
            Saat itu umur pak Wayan Nika belumlah menginjak kepala empat. Tapi kepala beliau sudah diisi dengan segala rencana-rencana mulia. Sejak awal tahun 1980-an, beliau mengumpulkan anak-anak. Soal dana, beliau mengungkapkan bahwa ada saja jalan jika kita berniat tulus. Entah itu dari sumbangan donatur, entah itu penghasilan pribadi yang tidak disangka-sangka. Beliau juga tak jarang memberikan gajinya sebagai guru untuk menyokong kebutuhan anak-anak asuhnya.
            Tanda tanya saya tentang keberadaan alat latihan angkat besi di hall terjawab, pak Wayan Nika melatih angkat besi. Salah satu anak asuh telah mengukir prestasi hingga tingkat dunia dan sudah tidak perlu diasuh karena sudah ditanggung oleh negara. Beberapa anak asuhnya bahkan  berhasil mengenyam pendidikan tinggi bahkan hingga S2. “Ada pengalaman lucu, saya pernah bertemu seorang polisi di jalan dan tiba-tiba polisi itu menyalami saya sambil bertanya, bapak masih ingat saya? Rupanya itu anak asuh saya, hahahhaa....” tutur I Wayan Nika membuat kami turut tertawa.
            Kunjungan ini memang menyenangkan. Namun, di balik cerita sukses I Wayan Nika sebagai bapak asuh juga terdapat kisah-kisah duka, seperti anak-anak yang bandel. Saya baru tahu, tidak semua anak asuh I Wayan Nika merupakan yatim piatu. “Mereka ada yang memiliki orang tua, tetapi tidak mampu mengasuh karena alasan ekonomi. Saya coba bantu. Tapi kalau bandel, dan mengancam anak-anak asuh yang lain, ya, saya kembalikan. Mungkin anak bandel itu memang bukan disini tempatnya.”  Selain itu godaan sejumlah uang yang sangat fantastis pun sering menyambangi. Ada beberapa telpon yang menawarkan sejumlah besar imbalan untuk mengadopsi anak asuh, tapi ditolaknya. Bahkan pernah mendapatkan fitnah yang sangat keji pun pernah beliau hadapi.
            Segala rintangan tersebut tidak menyurutkan semangat I Wayan Nika untuk mengasuh anak kurang beruntung. Berkat kegigihan tersebut, beliau mendapat penghargaan Satya Lencana dari almarhum  Presiden RI kedua, Soeharto. Kemudian pernah diundang oleh presiden keempat RI, Megawati Soekarnoputri,  di sebuah acara makan malam. Itu belum penghargaan-penghargaan dari berbagai kalangan dalam dan luar negeri.
            Saya sangat senang bisa bertemu tokoh seperti I wayan Nika. Beliau sangat rendah hati meskipun penghargaan-penghargaan telah diterima. Bahkan, beliau tampak antusias menerima buku Petuah Kinara dan Kinari Kumpulan Cerita Anak sebagai bahan bacaan  anak-anak asuhnya.
            Beliau bahkan mengajak kami melihat kelas Kejar Paket yang biasa digunakan anak-anak asuh belajar. Ada perpustakaan mini di sampingnya. “Mas kan penulis, boleh ambil satu buku, mana tahu bisa memberi ide membuat buku anak-anak lagi hehehe....” Kami hanya tertawa.
            Padahal pak Wayan Nika serius hendak memberi. Semangat memberi dan mengasihi tanpa mengharap imbalan  memang sudah tertanam pada pria berusia 71 tahun ini. Buktinya sudah duaribuan anak  sudah diasuhnya. Jangankan minta imbalan kepada mereka, satu dari wajah mereka pun sudah lupa....
            Hari sabtu, tanggal 17 Juni 2017, memang hari keberuntungan bagi saya bisa bertemu orang sehebat  pak Wayan Nika.