yang mengikuti saya

Saturday, April 29, 2017

Tempat-Tempat Penawar Stress di Bali


            Bali merupakan tempat tinggal impian bagi saya sejak masih memakai seragam  sekolah biru putih. Toleransi yang tinggi, keramahan penduduk, keunikan budaya yang mampu membawa kita ke masa kejayaan Hindu, dan alamnya menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Semakin banyak pengunjung, semakin macet, makin tinggi pula tingkat risiko terkena stress. Untungnya, Bali menawarkan beberapa tempat yang mampu menawarkannya.

            Bali baru saja menempati puncak destinasi terpopuler seasia  menurut Tripadvisor. Capaian ini tidak lepas dari kerja keras semua pihak, terutama masyarakat Bali sendiri. Banyak tempat-tempat hiburan di Bali yang menyajikan hiburan seperti night club, resto, resort, playing park, dan alam berupa pantai dan pegunungan yang bisa dijelajahi. Namun, tempat-tempat pelepas stress tadi masih dianggap oleh sebagian orang sebagai tempat prestisius dan sukar dijangkau. Saya misalnya, bekerja di hotel dengan lima hari kerja dua hari libur, masih pikir-pikir untuk menjelajahi tempat-tempat itu.

Lapangan Puputan yang 
dilengkapi arena bermain sekaligus berolahraga untuk anak-anak
            Suatu pagi pada hari sabtu, saya mendapat pesan singkat dari salah satu rekan kerja. Sebut saja namanya kak Titin. Ia mengajak jogging, sebab tidak seru jogging sendirian. Kami pun menuju ke lapangan Puputan jam tujuh pagi. Lapangan dengan luas lebih dari 35,000 meter persegi ini merupakan titik nol kilometer kota Denpasar. Disana kami menemukan banyak orang yang juga berolahraga, seperti jogging, main sepeda statik, latihan beban dan sepak bola.  Lapangan ini memang dilengkapi dengan area  yang berfungsi sebagai tempat bermain maupun berolahraga. Bahkan, saya melihat beberapa grup siswa sekolah yang mengelilingi guru olahraga masing-masing.


Suasana Jalan Gadjahmada Denpasar sungguh lengang
 dan asyik untuk jogging sambil bernostalgia
            Setelah puas mengelilingi lapangan puputan, kami berdua menyempatkan menelusuri jalan Gajahmada. Kami mendapati bangunan pertokoan yang berusia tua dan memiliki arsitektur Bali jadul. Sensasi bernostalgia tak hanya sampai disitu, kami mendapati patung caturmuka yang legendaris.


            Sabtu berikutnya, kami berangkat pagi-pagi lagi untuk jogging. Kali ini, tujuannya adalah hutan Mangrove tak jauh dari simpang Dewa Ruci, Kuta. Hanya dengan membayar tiket masuk sepuluhribu rupiah, kami bisa mengakses salah satu titik kawasan mangrove yang ada di Bali. Pagi hari masih sepi, sehingga kami bisa betul-betul menikmati segarnya oksigen sepuasnya di sepanjang jalan. Oh ya, jalanan berupa kayu-kayu yang ditata menembus rerimbunan mangrove. Setelah puas, kami jogging di jalanan beraspal. Kanan dan kiri rerimbunan mangrove pun masih saja menghiasi.

Air laut yang menghantam karang

 dan menyembur ke atas 
menjadi pemandangan alam yang unik di Nusa Dua Bali
            Sabtu depannya, kami mengelilingi kawasan  Bali Tourism Developement Corporation atau yang disingkat BTDC. Kawasan ini berada di wilayah Nusadua, kecamatan Kuta selatan. Dan inilah yang kami temui: jogging track di kawasan resort, taman dengan air mancur dan... waterblow. Sebelum  pindah tempat tinggal ke Denpasar, saya sudah mengenal tempat ini. Gulungan ombak yang menghantam karang menciptakan air yang menyembur  ke atas  dengan dahsyatnya. Pagi itu, sungguh berarti buat saya. Saya tidak menyangka, hiburan tanpa berbayar ini mampu melepaskan stress akibat penatnya beraktivitas selama seminggu sebagai receptionist hotel Courtyard by Marriott Bali Seminyak sekaligus mahasiswa Kajian Ilmu Pariwisata Universitas Udayana.
            Demikian, setiap libur saya jogging bersama kawan di tempat yang berbeda. Dampaknya luar biasa, kreatifitas saya meningkat dan beban stress saya lepas entah kemana dan saya siap memulai hari baru. Semua yang saya dapatkan ini sangat-sangat murah, hanya modal bensin sepeda motor.