yang mengikuti saya

Monday, May 22, 2017

Acha Acha ... Welcome to Little India !


Suasana di penyebrangan jalan Serangoon

                Kota India. Sekelebat tersirat dalam pandangan mungkin merujuk pada kota yang penuh sesak, bau rempah, panas, debu, debu, berisik oleh orang-orang yang bercakap penuh antusias. Lain halnya dengan Little India Singapura.
Selamat datang di wilayah Little India!
                Little , sebuah distrik yang dihuni oleh bangsa India. Oleh sebab itu, alkuturasi bangunan Cina-India, Arab, dan Melayu terasa kental pada bangunan-bangunannya. Lihatlah Serangoon Road, sebuah jalan yang kanan kirinya orang-orang berjualan perhiasan, bebungaan, baju-baju sari, dan restauran dengan masakan khas India. Tidak sulit untuk mendapatkan teh tarik, roti chanai dan masakan lainnya.

               
Salah satu nama hotel
yang unik
"Kerbau Hotel"
              Saya sempat mencicipi nasi biryani  yang tekstur nasinya memanjang dengan kuah bumbu rempah yang khas.  Lalu, kami mendapati  sebuah kuil di sebuah perempatan . Kuil Hindu ala Bali berbeda dengan kuil Hindu ala India. Persamaannya adalah mengerucut ke atas.  Dengan biaya kurang dari duapuluh dolar, sudah  bisa menikmati suasana india di bagian kecil negara Singapura ini.





#helmilaksono
#yoursingapore

Saturday, May 6, 2017

Ini di Cina? Jawabannya: Bukan!


      
Berselfie di atas
Jembatan Tiruan Bai Hong Qiao 
     Salah satu kawan saya nampak kebingungan menebak salah satu koleksi foto di instagram,  Ini di Cina?  Saya tertawa sembari menjawab, “Bukan.”






Tiruan Bai Hong Qiao dari kejauhan
Teman saya tadi masih penasaran.  Saya berfoto dengan latar belakang pagoda di Chinese Garden  Jurong East, Singapura. Kawan saya terkejut, sebab Singapore setahu dia hanyalah sekumpulan gedung tanpa tempat sedamai kampung. Selama ini, ia hanya menganggap Singapura sebagai negara transit saat berpergian tanpa mau melihat sisi lain negeri ini. Padahal tempat ini bebas bea masuk dan  bisa ditempuh kurang dari sejam menaiki MRT dari bandara Changi dengan biaya kurang dari empat dolar sekali jalan.

            Sebenarnya, Chinese Garden yang memiliki luas 13,5 hektare ini diidirikan pada tahun 1975  dengan arsitek bernama  Prof. Yuen-chen Yu. Selain taman bergaya kekaisaran  Tiongkok, taman ini menyajikan  koleksi bonsai dan seni suiseki khas Jepang. Sebab itulah, terlihat tanda panah yang menunjukan arah berlawanan ke kanan Japanese Garden, ke kiri Chinese Garden.  Kedua taman dihubungkan oleh jembatan bercat putih ‘Bai Hong Qiao’ yang meniru gaya 17-Arch Bridge di Summer Palace, Beijing. Selain bangunan cina klasik yang ciamik, pengunjung pun bisa bersenang senang di Live Turtle and Tortoise Museum, yang menjadi rumah bagi 200 lebih penyu dan kura-kura dari 60 spesies lebih.
Japanese Garden

            Nuansa Chinese Garden terasa dengan bangunan model kerajaan kuno negeri tirai bambu, seperti membawa pengunjung benar-benar berkeliling di istana kaisar  Cina. Selain itu, fasilitas seperti toilet umum dengan sentuhan arsitektur Cina. Yang menjadikan tempat ini benar-benar di Cina adalah pagoda, latar belakang saya berfoto. Pagoda tujuh lantai  itu sungguh menarik untuk dinaiki. Kita bisa melihat seluruh areal taman dan sebagian wilayah negara kota ini 360 derajat melalui puncak pagoda. Dan..., jepret sana jepret sini. Hasilnya beberapa foto selfie, lansekap pemandangan taman,  dan tangga Pagoda yang menyerupai labirin. 



Patung Hua Mulan, salah satu sosok
pahlawan sekaligus simbol feminisme di China 
Oh,iya..., pengetahuan saya tentang pahlawan legendaris Tiongkok kuno semakin terbuka dengan keberadaan patung-patung Confucius,  Hua Mulan, dan tokoh-tokoh lain di dekat Pagoda. Di bawah patung-patung itu terdapat keterangan mengenai tokoh patung. Misalnya Hua Mulan yang hidup pada kisaran tahun 386 sampai 436 setelah masehi, merupakan  seorang perempuan yang menyamar selama belasan tahun sebagai tentara lelaki menunjukkan bahwa perempuan memiliki kecerdasan, keberanian dan kemampuan yang sama dengan kaum pria. Saya sempat berkhayal, seandainya Indonesia memiliki taman-taman dengan tema daerah masing-masing dengan patung-patung  para pahlawan legendarisnya, pasti akan luar biasa.
         
            
Salah satu sudut pecinan 
Masih belum puas merasakan nuansa Cina di Chinese Garden, petualangan berlanjut di tempat lain seperti pecinan atau Chinatown. Kawasan ini ditempuh sekitar 30 menit dari Chinese Garden dengan MRT. Saya. Kawasan ini merupakan kawasan heritage tourism atau wilayah peninggalan pecinan jaman dulu di Singapura. Gedung pertokoan yang berasitektur cina pun  berderet rapi di wilayah ini dan layak untuk dijadikan latar selfie. Belum lagi, tempat-tempat  makan yang asyik seperti foodcourt di wilayah Smith Street. Harganya bervariasi, mulai dua  dolar  hingga delapan dolar per porsi. Sebelum meninggalkan pecinan, saya mampir ke toko yang menjual  sampel parfum orisinal dengan harga mulai 4 dolar.



Exit Gate Chinatown MRT station
            Saya pun kembali ke Bandara untuk melanjutkan perjalanan. Saya terkejut setelah menghitung pengeluaran. Saya hanya menghabiskan 15 sampai 20 dolar saja dengan berpuluh-puluh foto selfie yang bikin salah sangka.  Nah, jika transit di Changi atau berlibur ke Singapura, jangan lupa mencoba petualangan kecil tadi dan buat kawan-kawan anda penasaran dimana lokasi selfie... (Ini di Cina? Jawabannya: bukan!).  

oleh : #helmilaksono
#yoursingapore

            

Saturday, April 29, 2017

Tempat-Tempat Penawar Stress di Bali


            Bali merupakan tempat tinggal impian bagi saya sejak masih memakai seragam  sekolah biru putih. Toleransi yang tinggi, keramahan penduduk, keunikan budaya yang mampu membawa kita ke masa kejayaan Hindu, dan alamnya menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Semakin banyak pengunjung, semakin macet, makin tinggi pula tingkat risiko terkena stress. Untungnya, Bali menawarkan beberapa tempat yang mampu menawarkannya.

            Bali baru saja menempati puncak destinasi terpopuler seasia  menurut Tripadvisor. Capaian ini tidak lepas dari kerja keras semua pihak, terutama masyarakat Bali sendiri. Banyak tempat-tempat hiburan di Bali yang menyajikan hiburan seperti night club, resto, resort, playing park, dan alam berupa pantai dan pegunungan yang bisa dijelajahi. Namun, tempat-tempat pelepas stress tadi masih dianggap oleh sebagian orang sebagai tempat prestisius dan sukar dijangkau. Saya misalnya, bekerja di hotel dengan lima hari kerja dua hari libur, masih pikir-pikir untuk menjelajahi tempat-tempat itu.

Lapangan Puputan yang 
dilengkapi arena bermain sekaligus berolahraga untuk anak-anak
            Suatu pagi pada hari sabtu, saya mendapat pesan singkat dari salah satu rekan kerja. Sebut saja namanya kak Titin. Ia mengajak jogging, sebab tidak seru jogging sendirian. Kami pun menuju ke lapangan Puputan jam tujuh pagi. Lapangan dengan luas lebih dari 35,000 meter persegi ini merupakan titik nol kilometer kota Denpasar. Disana kami menemukan banyak orang yang juga berolahraga, seperti jogging, main sepeda statik, latihan beban dan sepak bola.  Lapangan ini memang dilengkapi dengan area  yang berfungsi sebagai tempat bermain maupun berolahraga. Bahkan, saya melihat beberapa grup siswa sekolah yang mengelilingi guru olahraga masing-masing.


Suasana Jalan Gadjahmada Denpasar sungguh lengang
 dan asyik untuk jogging sambil bernostalgia
            Setelah puas mengelilingi lapangan puputan, kami berdua menyempatkan menelusuri jalan Gajahmada. Kami mendapati bangunan pertokoan yang berusia tua dan memiliki arsitektur Bali jadul. Sensasi bernostalgia tak hanya sampai disitu, kami mendapati patung caturmuka yang legendaris.


            Sabtu berikutnya, kami berangkat pagi-pagi lagi untuk jogging. Kali ini, tujuannya adalah hutan Mangrove tak jauh dari simpang Dewa Ruci, Kuta. Hanya dengan membayar tiket masuk sepuluhribu rupiah, kami bisa mengakses salah satu titik kawasan mangrove yang ada di Bali. Pagi hari masih sepi, sehingga kami bisa betul-betul menikmati segarnya oksigen sepuasnya di sepanjang jalan. Oh ya, jalanan berupa kayu-kayu yang ditata menembus rerimbunan mangrove. Setelah puas, kami jogging di jalanan beraspal. Kanan dan kiri rerimbunan mangrove pun masih saja menghiasi.

Air laut yang menghantam karang

 dan menyembur ke atas 
menjadi pemandangan alam yang unik di Nusa Dua Bali
            Sabtu depannya, kami mengelilingi kawasan  Bali Tourism Developement Corporation atau yang disingkat BTDC. Kawasan ini berada di wilayah Nusadua, kecamatan Kuta selatan. Dan inilah yang kami temui: jogging track di kawasan resort, taman dengan air mancur dan... waterblow. Sebelum  pindah tempat tinggal ke Denpasar, saya sudah mengenal tempat ini. Gulungan ombak yang menghantam karang menciptakan air yang menyembur  ke atas  dengan dahsyatnya. Pagi itu, sungguh berarti buat saya. Saya tidak menyangka, hiburan tanpa berbayar ini mampu melepaskan stress akibat penatnya beraktivitas selama seminggu sebagai receptionist hotel Courtyard by Marriott Bali Seminyak sekaligus mahasiswa Kajian Ilmu Pariwisata Universitas Udayana.
            Demikian, setiap libur saya jogging bersama kawan di tempat yang berbeda. Dampaknya luar biasa, kreatifitas saya meningkat dan beban stress saya lepas entah kemana dan saya siap memulai hari baru. Semua yang saya dapatkan ini sangat-sangat murah, hanya modal bensin sepeda motor.