yang mengikuti saya

Saturday, April 23, 2016

BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...

BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...: Pulau Dewata menebar pesona dengan pura dan alamnya Belum lagi keramahan penduduk  yang melenakan hati Lupa dari hari yang tela...

BALI MON EVEIL: BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...

BALI MON EVEIL: BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...: BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak... : Pulau Dewata menebar pesona dengan pura dan alamnya Belum lagi keramahan penduduk  yang melenak...

Saturday, April 16, 2016

Surga Dunia Itu Bernama Bali

              1998
                Kala itu seindah saat aku bertemu pertama kali orang yang kusukai. Cinta pada pandangan pertama. Kunikmati setiap jalan dan tikungan   tempat lintasan minibus yang mengangkutku dari Sentral Kuta parkir hingga pantai.

                Pantai Kuta. Hiruk pikuk peselancar berbaur turis maupun penduduk lokal diiringi house music dari bus  kecil tak berkaca jendela yang disebut Komotra. Itulah kali pertama ke pantai Kuta dan aku langsung jatuh cinta.

                “Wan,” kataku pada seorang kawan, “suatu saat, aku akan kembali kesini!”

                Kawanku tak mendengarku dan hanyut dalam tidurnya menuju perjalanan ke Jawa. Lima  hari sungguh terlalu singkat. Aku sedih.

                Kesedihanku tak sampai empat tahun. Aku sudah menginjakkan kakiku di bali lagi pada tahun ketiga.

                2001

                Kuta tidak jauh berbeda. Meski celana pendek biru seragamku telah berganti warna abu-abu memanjang hingga mata kaki, aku masih menemukan keriangan yang sama seperti pertama kali ke Kuta tiga tahun silam: musik house dari komotra, keriuhan peselancar domestik dan mancanegara menari-nari di atas gulungan ombak... dan akhirnya membenamkan diri disana. Aku rasa, aku benar-benar kedanan dengan tempat ini. Kegilaan oleh girang bertemu kembali orang yang kaucinta setelah tiga tahun tak bersua  sangatlah wajar, bukan?

                Saat itu, aku berikrar dalam hati: suatu saat aku akan bekerja disini.... Di Bali. Setiap hari libur, aku akan menjelajahi semua tujuan wisata, Kuta, Bedugul, Tanah Lot, Ubud... semuanya.

                2010

                Kali ini aku benar benar harus bersabar hingga akhirnya salah satu kawanku beride agar aku mencoba menjadi pemandu wisata. Selepas diwisuda tahun September 2009  aku mencoba menjadi guide tak-terikat kontrak di daerah Jogja, Magelang, dan Ambarawa. Namun, saat low season turis mancanegara, aku menganggur. Begitulah aku bercerita kepada salah seorang temanku hingga ia menawariku untuk datang ke bali bulan September tahun ini untuk training memandu ke beberapa daerah Bali, Ubud, Celuk, Mas, dan Bedugul.

                Namun rencanaku berubah, aku justru mendapat kesempatan lain dari temanku yang lain: bekerja di sebuah hotel di daerah Tanjung Benoa. Cihuy..., ini adalah daerah watersports, wateractivities, pantai berpasir putih, 5 menit dari kawasan Pengembangan Pariwisata Bali. Ditambah lagi  mangrove dengan rawa pemandangan yang menakjubkan, namun sekaligus  menyimpan dongeng dongeng yang menyeramkan.

                Yulfah. Seorang gadis berkulit legam dengan tubuh gemuk asal Madura. Ia bekerja di rumah kos tempatku tinggal. Ia mengisahkan ada banyak desas desus berbau mistis di daerah Tanjung Benoa. Konon para pemilik ilmu hitam berkumpul  di gang Bidadari. Tepatnya di pertigaan dekat kebun kelapa, mereka saling unjuk kebolehan berubah rupa. Ada yang berubah menjadi Monyet besar tanpa ekor, harimau, sepeda motor yang bisa jalan tanpa pengendara....

                Kisah mistis tersebut diperkuat oleh Ogi, tetanggaku di kamar kos sebelah. Ogi sendiri berasal dari Karangasem. Sudah merantau ke daerah Kuta, Legian, Seminyak, dan terakhir di Tanjung Benoa. Setiap daerah yang ia tinggali memiliki kisah makhluk gaib sendiri-sendiri.

Menurutnya yang berkesan ada dua. Pertama, ia pernah bertemu seorang kakek tua di daerah Kuta sedang menyusuri gang. Ketika kakek itu berbalik, tampaklah rambut putih memanjang, jidat berkilau licin, dan lidahnya menjulur hingga menyentuh tanah. Kedua, ia melihat anak kecil bermain-main serta memanjat pohon mangrove di belakang kontrakannya di Tanjung Benoa.

Kisahan dua orang tersebut diperkuat oleh menantu induk semang kos.  Bahkan ada teman satu tempat kerja pun  minta istrinya menjemput setiap pulang malam. Ia tidak berani menyusuri gang Bidadari  dengan hanya berjalan. Ia amat yakin bahwa desas desus gang Bidadari benar adanya.

Gang Bidadari ini penghubung kos tempatku tinggal dan tempatku bekerja. Dan aku melaluinya setiap hari. Aku bekerja dua shift di hotel. Pagi dan sore. Pagi mulai pukul 07.00 pagi dan pulang jam tiga sore. Malam, aku masuk jam dua dan pulang jam sepuluh malam. Saat akhir shift sore inilah, saat sat mendebarkan berjalan sendirian di gang Bidadari. Gang yang tak seelok namanya. Gang yang gelap dan mengerikan mengingat cerita-cerita  mistisnya.

 

Bersambung....

BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...

BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...: Pulau Dewata menebar pesona dengan pura dan alamnya Belum lagi keramahan penduduk  yang melenakan hati Lupa dari hari yang tela...

Seminyak O Seminyak...


Pulau Dewata menebar pesona dengan pura dan alamnya
Belum lagi keramahan penduduk  yang melenakan hati
Lupa dari hari yang telah redup
Saat terlelap, ataupun terbangun menikmati rayuan khidupan malam yang  berujung di ranjang
Seminyak. Merupakan kawasan yang tak seberapa jauh dari bandara. Bila sudah bosan dengan Kuta yang terlalu hingar-bingar, terlalu semrawut dengan kendaraan yang berjejalan, pelancong grup yang memenuhi pantai Kuta, ada baiknya mencoba daerah ini.  Ada Eat street atau Jl. Oberoi atau Jl. Laksamana, dimana bisa ditemukan tempat makan yang asyik. Ada Rumours, Mamasan, Ultimo dan yang lainnya. Lalu terus ke arah petitenget, dengan mudah akan ditemukan tempat dining plus entertainment seperti Kudeta, Potato Head,  dan Mozaic.
Adalah jalan camplung Tanduk, sebuah lorong panjang menuju pantai seminyak. Letaknya hanya 20-30 menit dari tempat-tempat tadi. Sebuah lorong dengan beberapa pilihan hiburan malam di Seminyak. Disini, saya akan membahas secara singkat tujuh hotel agar tidak salah pilih dalam memilih tempat menginap.
1.       Hotel Primera
Merupakan salah satu hotel dengan harga kamar yang sangat terjangkau. Cocok untuk anak muda petualang, backpacker, suka kehidupan malam. Letaknya di tepi jalan Camplung Tanduk dan  tidak jauh dari bar yang seru sekali pada tengah malam dan jauh dari kata sepi.
2.     Grandmass
Hotel bintang tiga berdesain  simpel  dengan harga sangat terjangkau.  Cocok buat para peselancar yang berjarak  hanya 7 menit dari pantai seminyak. Letaknya di tepi Jalan Camplung Tanduk namun lumayan jauh dari bar. Jika tidak mau berisik kendaraan motor yang lewat, pesan  saja kamar jauh dari jalan.
3.       Ping Hotel
Perlu melewati satu lorong yang cukup untuk masuk satu mobil untuk menemukan lobby hotel ini. Harganya sedikit mahal namun tidak persis di dekat jalan. Sehingga lebih sedikit tenang.
4.       The Breezes Hotel
Hotel bintang empat dengan nuansa bali yang lumayan kental. Terdapat ornamen ukiran bali di pintu masuk ke lobby. Biarpun berada persis di tepi jalan, namun letak kamar berada di dalam.
5.       The  Royal Beach Bali Seminyak
 
Salah satu M Gallery Collection yang dimiliki Accor. Sebelum berganti merk dari Sofitel, hotel dengan lebih dari 10 villa ini masuk Mgallery berkat keunikan arsitektur dan nilai historis tersendiri. Merupakan salah satu hotel terbesar awal tahun 90-an dan bergonta-ganti nama. Harganya yang lumayan menguras kantong memang sesuai dengan fasilitas dan service yang diberikan: kolam renang dengan patung-patung uniknya, akses langsung ke pantai seminyak dengan lifeguard, tempat ngegym, serta My Spa.
6.       Anantara
Selain The Royal Beach Seminyak, Anantara merupakan hotel kelas mewah  yang  berada di wilayah ini. Letaknya yang tepat di ujung jalan Camplung Tanduk juga memiliki akses langsung ke pantai. Fasilitas kelas bintang lima lain seperti fitness center, kolam renang, Spa dan service staff yang ditraining dengan baik akan membuat para tamu puas.
Menjadi salah  satu koleksi raksasa warabala hotel di Amerika, hotel ini memiliki sistem kemanan superketat. Baik karyawan maupun tamu hotel yang mau masuk ke dalam hotel harus melalui X-ray. Jika memiliki senjata tajam, meskipun hanya gunting kecil, harus dititip di seurity dan bisa diambil saat keluar hotel. Hotel ini memiliki valet service, recreation (termasuk fitness center,  spa, kidsclub  dengan berbagai aktivitas yang sebagian besar gratis), high speed wi-fi gratis , dan poolbar dimana tamu bisa menikmati minum sambil bersantai dalam kolam renang.  Belum lagi banyak promosi untuk tamu biasa dan juga pemegang  membership Marriott Rewards. -
Nah, sekarang tinggal pilih mana hotel yang sesuai dengan kebutuhan dan kantong!--HL

Tuesday, April 5, 2016

Padang Padang Sayang .....




Beberapa hari lalu, saya berkunjung ke pantai Padang Padang. Sebuah Pantai yang sempat dijadikan salah satu lokasi syuting Eat Pray and Love. Keindahan sunset harbour saat Liz diajak Felipe menuju pulau Gili tentu  bisa sedikit banyak menggambarkan keindahan pantai ini. Pantai yang membuat saya makin jatuh hati pada Bali. Tempat yang senantiasa membuat pikiran saya ‘padang’ oleh  kalut dan hiruk-pikuk pekerjaan saya.

                Sebenarnya, lima tahun sudah saya mengenal pantai ini. Karang-karang besar yang beterbaran di garis pantai berselang seling dengan hamparan pasir putih serta koral serupa ukiran yang dipahat alam. Belum lagi pasir putih dan  ikan ikan kecil dan biota laut yang bisa dijumpai saat air surut dengan ombak tenang.

                Namun, sangat disayangkan bila keindahan ciptaan Tuhan ini rusak oleh ulah pengunjung maupun pedagang di sekitar pantai. Pecahan  botol bir hijau yang kadang terselip di pasir-pasir. Juga asap pembakaran sampah di dekat tempat turis berjemur.  Ditambah batok kelapa yang bertumpuk-tumpuk sumber bau tak sedap.  Sungguh mengganggu!

                Ada sedikit perubahan di pantai ini. Tempat parkir berbayar sudah diatur dan disediakan diatas jalan raya. Ada petugas yang menunggu disana.  Jadi, pengunjung  tinggal turun dan menyeberangi jalan untuk menuju pantai.

                Tapi, tunggu dulu! Jangan asal masuk! Sebab sudah ada loket tiket masuk.  Saya kurang tahu sejak kapan tiket masuk diberlakukan. Namun hal ini jelas berbeda dari beberapa bulan lalu. Mungkin masih baru.

         Yang tidak berubah adalah monyet-monyet yang  melompat kesana-kemari di celah rindangnya pepohonan di tebing.  Dan hei!  Mereka sibuk mengulik tumpukan batok kelapa. Begitu menemukan yang masih berisi daging buah kelapa, seekor monyet membawanya ke tempat aman dan menggerogotinya. Saya mencium bau tak sedap. Sayang sekali, saya harus bilang bahwa bau itu berasal dari sisa daging kelapa yang membusuk dalam batoknya berbaur asap pembakaran sampah. Selain sampah organik, saya melihat hitam arang mengkilat plastik dibakar.

Saya juga belum mendapati ada larangan beserta sanksi bagi pembuang sampah di dekat lokasi berjemur. Padahal ini perlu, setidaknya sebagai bentuk peringatan bagi penjahat lingkungan. Saya tidak mau bilang bahwa pengunjung maupun pedagang sekitar pantai cantik ini yang membuang sampah disana. Tetapi itu kenyataannya!

Jelas, dibutuhkan Komitmen bersama untuk mencegah kerusakan objek wisata ini. Larangan dan sanksi tegas bagi yang membuang sampah di sekitar pantai. Tidak kalah penting, relokasi pedagang dari tepi pantai ke atas tempat parkir. Penyuluhan tentang pelestarian lingkungan hidup sangat dibutuhkan untuk menggugah kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya objek wisata tersebut.
                Kembali kepada Eat Pray and Love yang merupakan  produksi rumah industri film raksasa di Hollywood, tentu berbeda jauh pemandangan pantai di film dibanding dengan kenyataan. Saya jadi ingat, ada salah satu tamu komplain tentang keadaan kamar hotel yang tidak secantik gambar di internet. Jangan sampai pengunjung Padang Padang berkata  dan berkata, “Kok, pantai ini tidak seelok di film?!” 

Friday, April 1, 2016

Mengintip Gay dan Transgender di Seminyak Bali

Malam Sudah begitu larut
Seperti ombak pasang di laut,  hingar-bingarnya tak turut surut
Para lelaki  berdandan layak perempuan
Hanyut dalam dentuman musik disko mengiringi sang biduan
Malam kian kelam udara pun mendingin
Namun kehidupan baru ditiupkan sang angin

             Kehidupan malam di wilayah Legian sangat terkenal dengan night club-nya. Namun bagaimankah dengan daerah Lain? Mari kita menghabiskan waktu dengan berjalan jalan ke Seminyak.

            Tepat di Jalan Camplung Tanduk, ada empat bar yang berbeda dengan  bar-bar lainnya. Mixwell, Balijoe, Bottom-Up dan Dix Club. Keempat bar ini menawarkan pertunjukan yang bertema sama, yaitu Drag Queen dan Gogo Dance Pria.

            Drag Queen sendiri merupakan pria yang berdadan serta bergaya perempuan. Biasanya para penyanyi perempuan seperti Lady Gaga, Beyoncé Knowless, Nicky Minaj, dan yang lainnya menjadi  model sesuai dengan peran yang dituntut. Mereka menyanyi lipsync lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para pesohor yang mereka perankan. Misalnya seorang dragqueen memerankan Beyoncé Knowless, maka lagu yang di-lipsynckan biasanya Crazy in Love, Listen, Déja-vu dan lagu-lagu lainya yang pernah dinyanyikan oleh penyanyi afro-amerika tersebut.

            Lain halnya dengan Gogo Dance pria. Mereka dituntut mememiliki tubuh yang indah. Biasanya berotot nan kedang. Tugasnya hanya meliuk-liukan tubuh dan memperlihatkan sebagian besar keindahan tubuh. Keindahan untuk menarik pengunjung yang rata-rata gay.

Eksistensi kaum Gay dan Transgender

            Letak keempat Bar Gay tersebut mudah dijangkau. Sebab berada tepat ditepi jalan Dhyana Pura Seminyak. Di situlah satu-satunya tempat bagi kaum Gay dan Trangender bersosialisasi. Bisa dikatakan, itulah tempat strategis untuk mencari pasangan hidup, ataupun sekedar senang-senang. Perkembangan teknologi informasi mendukung bar-bar  itu makin dikenal di Bali, Indonesia, maupun manca negara. Terbukti 'followers' dan ‘likers’ bar-bar tersebut  di akun-akun instagram milik warga dari berbagai daerah di dunia ini.

            Eksistensi kaum homoseksual yang sempat menuai kontroversi emotikon  di aplikasi ‘line’ tentu masih tersisa dalam ingatan. Kebanyakan daerah-daerah di luar Bali menyatakan tidak mendukung kelompok ini. Demikian juga terhadap kelompok transgender. Namun sebagian dari mereka  ingin tetap diakui keberadaanya. Jadi tidak mengherankan banyak kaum gay maupun transgender dari berbagai daerah di dalam maupun luar negeri berduyun duyun ke Bali. Dan keempat Bar muncul sebagai ‘kerajaan surga’ bagi mereka.