yang mengikuti saya

Saturday, April 16, 2016

Surga Dunia Itu Bernama Bali

              1998
                Kala itu seindah saat aku bertemu pertama kali orang yang kusukai. Cinta pada pandangan pertama. Kunikmati setiap jalan dan tikungan   tempat lintasan minibus yang mengangkutku dari Sentral Kuta parkir hingga pantai.

                Pantai Kuta. Hiruk pikuk peselancar berbaur turis maupun penduduk lokal diiringi house music dari bus  kecil tak berkaca jendela yang disebut Komotra. Itulah kali pertama ke pantai Kuta dan aku langsung jatuh cinta.

                “Wan,” kataku pada seorang kawan, “suatu saat, aku akan kembali kesini!”

                Kawanku tak mendengarku dan hanyut dalam tidurnya menuju perjalanan ke Jawa. Lima  hari sungguh terlalu singkat. Aku sedih.

                Kesedihanku tak sampai empat tahun. Aku sudah menginjakkan kakiku di bali lagi pada tahun ketiga.

                2001

                Kuta tidak jauh berbeda. Meski celana pendek biru seragamku telah berganti warna abu-abu memanjang hingga mata kaki, aku masih menemukan keriangan yang sama seperti pertama kali ke Kuta tiga tahun silam: musik house dari komotra, keriuhan peselancar domestik dan mancanegara menari-nari di atas gulungan ombak... dan akhirnya membenamkan diri disana. Aku rasa, aku benar-benar kedanan dengan tempat ini. Kegilaan oleh girang bertemu kembali orang yang kaucinta setelah tiga tahun tak bersua  sangatlah wajar, bukan?

                Saat itu, aku berikrar dalam hati: suatu saat aku akan bekerja disini.... Di Bali. Setiap hari libur, aku akan menjelajahi semua tujuan wisata, Kuta, Bedugul, Tanah Lot, Ubud... semuanya.

                2010

                Kali ini aku benar benar harus bersabar hingga akhirnya salah satu kawanku beride agar aku mencoba menjadi pemandu wisata. Selepas diwisuda tahun September 2009  aku mencoba menjadi guide tak-terikat kontrak di daerah Jogja, Magelang, dan Ambarawa. Namun, saat low season turis mancanegara, aku menganggur. Begitulah aku bercerita kepada salah seorang temanku hingga ia menawariku untuk datang ke bali bulan September tahun ini untuk training memandu ke beberapa daerah Bali, Ubud, Celuk, Mas, dan Bedugul.

                Namun rencanaku berubah, aku justru mendapat kesempatan lain dari temanku yang lain: bekerja di sebuah hotel di daerah Tanjung Benoa. Cihuy..., ini adalah daerah watersports, wateractivities, pantai berpasir putih, 5 menit dari kawasan Pengembangan Pariwisata Bali. Ditambah lagi  mangrove dengan rawa pemandangan yang menakjubkan, namun sekaligus  menyimpan dongeng dongeng yang menyeramkan.

                Yulfah. Seorang gadis berkulit legam dengan tubuh gemuk asal Madura. Ia bekerja di rumah kos tempatku tinggal. Ia mengisahkan ada banyak desas desus berbau mistis di daerah Tanjung Benoa. Konon para pemilik ilmu hitam berkumpul  di gang Bidadari. Tepatnya di pertigaan dekat kebun kelapa, mereka saling unjuk kebolehan berubah rupa. Ada yang berubah menjadi Monyet besar tanpa ekor, harimau, sepeda motor yang bisa jalan tanpa pengendara....

                Kisah mistis tersebut diperkuat oleh Ogi, tetanggaku di kamar kos sebelah. Ogi sendiri berasal dari Karangasem. Sudah merantau ke daerah Kuta, Legian, Seminyak, dan terakhir di Tanjung Benoa. Setiap daerah yang ia tinggali memiliki kisah makhluk gaib sendiri-sendiri.

Menurutnya yang berkesan ada dua. Pertama, ia pernah bertemu seorang kakek tua di daerah Kuta sedang menyusuri gang. Ketika kakek itu berbalik, tampaklah rambut putih memanjang, jidat berkilau licin, dan lidahnya menjulur hingga menyentuh tanah. Kedua, ia melihat anak kecil bermain-main serta memanjat pohon mangrove di belakang kontrakannya di Tanjung Benoa.

Kisahan dua orang tersebut diperkuat oleh menantu induk semang kos.  Bahkan ada teman satu tempat kerja pun  minta istrinya menjemput setiap pulang malam. Ia tidak berani menyusuri gang Bidadari  dengan hanya berjalan. Ia amat yakin bahwa desas desus gang Bidadari benar adanya.

Gang Bidadari ini penghubung kos tempatku tinggal dan tempatku bekerja. Dan aku melaluinya setiap hari. Aku bekerja dua shift di hotel. Pagi dan sore. Pagi mulai pukul 07.00 pagi dan pulang jam tiga sore. Malam, aku masuk jam dua dan pulang jam sepuluh malam. Saat akhir shift sore inilah, saat sat mendebarkan berjalan sendirian di gang Bidadari. Gang yang tak seelok namanya. Gang yang gelap dan mengerikan mengingat cerita-cerita  mistisnya.

 

Bersambung....

No comments:

Post a Comment