yang mengikuti saya

Tuesday, April 5, 2016

Padang Padang Sayang .....




Beberapa hari lalu, saya berkunjung ke pantai Padang Padang. Sebuah Pantai yang sempat dijadikan salah satu lokasi syuting Eat Pray and Love. Keindahan sunset harbour saat Liz diajak Felipe menuju pulau Gili tentu  bisa sedikit banyak menggambarkan keindahan pantai ini. Pantai yang membuat saya makin jatuh hati pada Bali. Tempat yang senantiasa membuat pikiran saya ‘padang’ oleh  kalut dan hiruk-pikuk pekerjaan saya.

                Sebenarnya, lima tahun sudah saya mengenal pantai ini. Karang-karang besar yang beterbaran di garis pantai berselang seling dengan hamparan pasir putih serta koral serupa ukiran yang dipahat alam. Belum lagi pasir putih dan  ikan ikan kecil dan biota laut yang bisa dijumpai saat air surut dengan ombak tenang.

                Namun, sangat disayangkan bila keindahan ciptaan Tuhan ini rusak oleh ulah pengunjung maupun pedagang di sekitar pantai. Pecahan  botol bir hijau yang kadang terselip di pasir-pasir. Juga asap pembakaran sampah di dekat tempat turis berjemur.  Ditambah batok kelapa yang bertumpuk-tumpuk sumber bau tak sedap.  Sungguh mengganggu!

                Ada sedikit perubahan di pantai ini. Tempat parkir berbayar sudah diatur dan disediakan diatas jalan raya. Ada petugas yang menunggu disana.  Jadi, pengunjung  tinggal turun dan menyeberangi jalan untuk menuju pantai.

                Tapi, tunggu dulu! Jangan asal masuk! Sebab sudah ada loket tiket masuk.  Saya kurang tahu sejak kapan tiket masuk diberlakukan. Namun hal ini jelas berbeda dari beberapa bulan lalu. Mungkin masih baru.

         Yang tidak berubah adalah monyet-monyet yang  melompat kesana-kemari di celah rindangnya pepohonan di tebing.  Dan hei!  Mereka sibuk mengulik tumpukan batok kelapa. Begitu menemukan yang masih berisi daging buah kelapa, seekor monyet membawanya ke tempat aman dan menggerogotinya. Saya mencium bau tak sedap. Sayang sekali, saya harus bilang bahwa bau itu berasal dari sisa daging kelapa yang membusuk dalam batoknya berbaur asap pembakaran sampah. Selain sampah organik, saya melihat hitam arang mengkilat plastik dibakar.

Saya juga belum mendapati ada larangan beserta sanksi bagi pembuang sampah di dekat lokasi berjemur. Padahal ini perlu, setidaknya sebagai bentuk peringatan bagi penjahat lingkungan. Saya tidak mau bilang bahwa pengunjung maupun pedagang sekitar pantai cantik ini yang membuang sampah disana. Tetapi itu kenyataannya!

Jelas, dibutuhkan Komitmen bersama untuk mencegah kerusakan objek wisata ini. Larangan dan sanksi tegas bagi yang membuang sampah di sekitar pantai. Tidak kalah penting, relokasi pedagang dari tepi pantai ke atas tempat parkir. Penyuluhan tentang pelestarian lingkungan hidup sangat dibutuhkan untuk menggugah kesadaran masyarakat sekitar akan pentingnya objek wisata tersebut.
                Kembali kepada Eat Pray and Love yang merupakan  produksi rumah industri film raksasa di Hollywood, tentu berbeda jauh pemandangan pantai di film dibanding dengan kenyataan. Saya jadi ingat, ada salah satu tamu komplain tentang keadaan kamar hotel yang tidak secantik gambar di internet. Jangan sampai pengunjung Padang Padang berkata  dan berkata, “Kok, pantai ini tidak seelok di film?!” 

No comments:

Post a Comment