yang mengikuti saya

Wednesday, July 26, 2017

Ketika Kinara dan Kinari Terbang Ke Dunia Nyata

           
          
Patung Kinari di tepi Wat Rong Khung
Sumber: koleksi pri
badi

Menurut mitos agama Budha, Kinara dan Kinari merupakan makhluk setengah burung setengah manusia. Menurut sebuah sumber, pernah suatu ketika kedua makhluk ini terpisahkan dan menangis hingga mengacaukan  nirwana. Kemudian mereka dipertemukan di bawah pohon kehidupan, Kalpataru.  Kinara dan Kinari pun terbang ke dunia nyata sebagai simbol kasih sayang antarmakhluk hidup dan dapat ditemukan melalui ukiran patung maupun pahatan relief.
            Kinara yang senantiasa digambarkan simbol keperkasaan dan kejantanan pun masih merasa rapuh bila dipisahkan oleh Kinari yang lembut dan jelita. Pun demikian sebaliknya. Keduanya di bawah naungan Kalpataru terpahat abadi sejak abad kedelapan di candi-candi Budha di Magelang seperti Borobudur, Pawon dan candi Mendut.
Patung KInara di Wat Phra Keuw
Sumber: wikipedia
            Tidak hanya dipahatkan berupa relief, Kedua makhluk ini diukir dalam bentuk patung di halaman vihara Mendut. Selain itu bisa ditemukan di beberapa kuil Budha seperti  Thailand, Vietnam, Cambodia dan Myanmar. Di Thailand, misalnya, dua patung Kinari nampak elok diukir oleh seniman Chalermchai Kositpipat  dan menambah hidup suasana taman Wat Rong Khun. Di negeri gajah putih ini pun bisa ditemukan patung Kinara dengan warna emas di Wat Phra Keuw.

            Yang tak kalah unik adalah relief kedua makhluk ini pun ditemukan di candi Prambanan, candi Hindu kuno terbesar  di Indonesia. Oleh sebab itu tak mengherankan jika makhluk ini tak hanya dikenal di mitologi agama Budha, tetapi juga agama Hindu. Dan mereka sepakat bahwa keduanya merupakan simbol kasih sayang.
Petuah Kinara dan Kinari
            Dalam  dunia sastra, terutama sastra anak sangat penting kehadiran kedua makhluk mitos ini sebagai simbol kasih sayang. Sebab itulah sejatinya mengapa kita, bangsa Indonesia, terlahir di antara perbedaan suku, agama, ras dan adat istiadat. Seyogyanya,  perbedaan itu berfungsi sebagai penambah kasanah kekayaan dan kebanggaan kita.
Kain cenderamata Motif Kinara dan Kinari
Sumber: http://www.goldkangaroomyanmartravels.com
            Saya berpikir, mungkin dasar kasih sayang lah yang menginspirasi para kreator relief Kinara dan Kinari di candi-candi kuno di tanah Jawa. Dasar yang juga dipakai oleh kreator patung-patung kedua makhluk ini di negara Burma dan Thailand. Oleh sebab itu, saya pun tak mau tertinggal meniupkan roh keduanya ke dalam cerita pendek Petuah Kinara dan Kinari.
           Saya melihat, ketika masih kecil, guru agama mengajarkan bahwa agama merupakan tali kasih Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia, dan bukan sebaliknya. Sejarah mencatat Animisme dan Dinamisme merupakan kepercayaan nenek moyang sebelum agama-agama besar masuk. Namun, ada beberapa pihak yang memanfaatkan agama tersebut untuk memecah belah. Ini bukan saja dilakukan oleh penjajah di masa lalu untuk menghancurkan persatuan kita yang bersuku-suku. Dari sini, saya terinspirasi menulis Petter Anderson, seorang hantu anak Belanda yang selalu hadir mengajarkan kecintaan pada negeri ini kepada siswa-siswa sekolah di Jogjakarta. Cerita ini pernah dimuat di majalah Bobo pada tahun 2003.

            Selain kedua cerita di atas, saya juga bercerita tentang pentingnya untuk berpikir positif kepada orang lain. Saya juga menyertakan ‘Croissant Persahabatan dari Madame Yves’, sebuah kisah yang mengajarkan bahwa orang yang tampak galak belum tentu pada kenyataanya. Siapa tahu dia adalah orang yang sangat perhatian kepada kita. Seperti Madame Yves yang mengawali persahabatan dengan kedua anak pengunjung perpustakaan melalui kue khas prancis, Croissant.
Petuah Kinara KInari (Kumpulan Cerita Pendek Anak-Anak)
Sumber: goodreads.com



Buku kumpulan cerita anak ini sebenarnya bukan untuk mengajari, namun lebih tepatnya belajar bersama. Kita belajar bersama tentang kenyataan bahwa kita dilahirkan di sebuah negeri yang berbeda-beda suku, agama, ras dan adat istiadat. Oleh sebab itu tidak ada alasan untuk saling menyayangi satu sama lain. Baiklah, tidak mengapa  jika pernah terjadi perseteruan di masa lalu, seperti saling perang status di akun-akun  media sosial. Yang terpenting adalah saatnya membangun persatuan untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik. 
oleh: Helmi Laksono

Wednesday, June 28, 2017

Karya Seni Tentang Keanekaragaman Berkat Pariwisata

Saya mengenal dunia pariwisata pertama kali melalui paman saya, namanya pak Muhammad. Dulu sekali, saat masih kecil, saya ingat paman saya memberi pulpen dengan bentuk yang tidak biasa, jarang ditemukan di warung maupun toko perlengkapan sekolah. Lalu, saya bertanya darimana beliau mendapatkannnya. Alih-alih menjawab, paman saya justru mengambil sebuah album foto.
            Album foto yang cukup besar. Beliau pun membukanya halaman demi halaman. Saya diperlihatkan foto-foto orang-orang berambut pirang, yang hanya bisa saya lihat di televisi. Saya ingat, umur saya masih tujuh tahun saat itu. Tidak cukup sampai disitu, paman saya memamerkan setumpuk kartu pos yang ditulis dengan tangan dengan bahasa yang saya tidak mengerti. Bahasa Belanda.
            Bukan bahasanya yang menarik perhatian, melainkan perangkonya yang benar-benar beda dengan perangko umumnya. Tidak hanya dari Belanda, paman saya mendapat kiriman kartu pos dari sahabat-sahabatnya dari Prancis, dan Jepang. Saya tanya apa pekerjaan beliau, rupanya seorang pemandu wisata.
            Paman saya tidak belajar secara khusus sebagai pemandu wisata. Beliau belajar otodidak bahasa Belanda dengan menggunakan kamus-kamus mungil dan mencoba terus berkomunikasi dengan pemandu wisata maupun turis Belanda. Akhirnya ia benar-benar bisa berbahasa Belanda. Bahkan bicara bahasa Jawa pun kadang mirip bicara bahasa Belanda, cadel-cadel aneh dan sulit dimengerti pelafalannya.
            Betapa senangnya saya mendapatkan sebuah kamus Indonesia-Belanda, setumpuk kartu pos dengan perangko-perangko uniknya, dan Guidebook yang tidak saya mengerti bahasanya namun menarik gambar-gambarnya. Saya bahkan dikasih tahu, bagaimana mendapatkan perangko-perangko itu.
            Begini caranya: pelajari bahasanya. Saya mengira semua turis berbahasa Inggris. Maka saya pun belajar bahasa Inggris dengan semangat. Bahkan ketika lulus SD, saya memutuskan melanjutkan ke SMP dekat  candi Borobudur. Saya orangnya tidak sabaran, dengan bahasa Inggris level dasar, saya nekad ke candi Borobudur. Saya praktik bahasa inggris lalu saying good bye kalau tidak mengerti apa yang dikatakan turis-turis asing. Waktu itu penjagaan candi Borobudur tidak seketat sekarang, saya bisa masuk melalui pagar belakang yang lebar-lebar. Kadang-kadang, pedagang cenderamata membawa saya masuk dengan mengaku sebagai orangtua, kakak, atau saudaranya.
            Saya menggunakan cara tersebut hingga SMA. Sebab, setelah SMA, penjaganya mulai galak-galak. Saya pun menggunakan kartu pelajar dan mendapat diskon tiket masuk. Saya harus menghindari hari sabtu dan minggu, serta siang hari. Sebab waktu-waktu itu, turis asing sangat jarang. Lalu, saya mulai mendapat kenalan dan saya tidak mengerti mengapa mereka memberi saya alamat e-mail. Saat itu, internet masih eksklusif untuk kalangan tertentu di kota sana. Jadi saya minta alamat mereka, dengan dahi berkerut kerut mereka menolak.
            Saya justru mendapatkan sahabat pena di bus sepulang sekolah. Dan, saya baru sadar tidak semua turis asing mahir berbahasa inggris. Jadi kami bercakap memakai bahasa isyarat dan gambar. Bukan karena dia cacat. Dia turis dari Jepang. Lalu kami pun bersahabat pena. Yeah, saya mendapat perangko dari jepang yang unik-unik.
            Lalu selulus SMA, saya melanjutkan bahasa Prancis. Karena saya menyadari tidak semua turis asing berbahasa Inggris. Selulus kuliah, saya mendapat sms dari salah seorang kawan bernama Teteh Lisa. Intinya tawaran menjadi guide bahasa prancis. Lalu, saya pun mikir mikir. Kelamaan mikir, job itu sudah melayang ke orang lain. Akhirnya, nomor saya mendarat di handphone mbak Maria Dewata Sakti Tour and Travel yang memiliki kerjasama dengan Asia Voyages. Tetiba saja saya mendapat tawaran tour Jogja-Jawa Tengah. Saya sendiri tidak percaya, dua tamu saya memberikan nilai sangat bagus sebagai tour guide. Ini berkat sopir yang mengangkut kami, beliau mengajari saya bagaimana menjadi guide yang baik (tidak melulu menjelaskan secara detail tentang obyek wisata tetapi juga menambah pengetahuan. Mungkin bagi kita biasa, namun bagi turis prancis sangat luara biasa. Misal: asal muasal beras, sebagian dari mereka tidak tahu kalau beras berasal dari gabah. Buktinya tamu saya sampai menjerit-jerit menangis karena takjub gabah yang dikupasnya memunculkan sebiji beras).
            Karena menjadi guide di  Jawa sangat bergantung dengan musim, maka saya memutuskan ke pusat para turis berlibur, barometer pariwisata di negara ini, yaitu pulau Bali. Awalnya, saya berniat mengikuti training sebagai guide, tapi karena guide senior menolak trainee, maka saya pun gagal menjadi guide. Namun, saya sudah bertekad bulat ke Bali. Lalu saya ditawari salah seorang kawan yang kebetulan mendapat lowongan Guest Relation French Speaking di salah satu boutique hotel di Tanjung Benoa.
            Perjalanan ke dunia wisata ini bagi saya sangat unik. Mulai dari ketertarikan saya akan pulpen dan perangko yang lain dari biasanya milik paman saya hingga melanjutkan kuliah S2 pariwisata di Universitas Udayana. Secara tidak sadar,  pariwisata mengajari saya banyak hal. Misalnya dari segi bahasa, tidak semua turis asing bisa dan mau berbahasa Inggris. Kedua, kedaatangan wisatawan asing di Indonesia memiliki musim, maka dikenal high season, peak season, dan low season. Ketiga, tidak semua turis asing itu kaya raya dan punya uang yang cukup, sebab ada beberapa yang main kabur dengan meninggalkan tagihan di hotel. Keempat, budaya kita sangat beragam dan dikagumi oleh bangsa luar hingga rela jauh-jauh mengunjungi negeri kita tercinta. Banyak lagi sebenarnya yang saya dapatkan dari pariwisata.

            Munculnya berbagai konflik-konflik, contoh kecil: saling unfriend di media sosial gara-gara berbeda pandangan mengusik saya. Si A memasang status yang menyakitkan hati si B. Si C berbeda pandangan dengan si D. Lalu saling adu pandangan hingga merangsek masuk ke wilayah SARA dan berujung saling blok di media sosial. Parahnya, pemilik akun-akun tersebut bukanlah anak kemarin sore. Melainkan mereka yang bertitel pendidikan tinggi.
            Padahal, pariwisata telah mengajari saya bahwa keberagaman bahasa, budaya, suku, agama dan lain sebagainya merupakan daya tarik. Sesuatu yang harusnya mengajari kita saling bertenggang rasa. Jadi, saya menulis sebuah buku untuk anak-anak, meskipun sering orang dewasa menyukai tulisan saya. Buku ini terdiri atas delapan cerita pendek anak-anak.
            Judul buku ini adalah Petuah Kinara dan Kinari Kumpulan Cerita Pendek Anak-anak. Saya memang menyukai menulis cerita anak-anak. Sebab hanya melalui cerita anak, saya masih bisa punya harapan untuk mengajak menghormati orang lain untuk beribadah sesuai dengan keyakinannya. Selain itu, penghargaan terhadap para pahlawan yang memperjuangkan kemerdakaan Republik ini juga saya tuliskan dalam bentuk cerita dalam buku ini. Kinara Kinari sendiri merupakan makhluk mitos yang direliefkan berupa makhluk setengah burung setengah manusia di pohon kehidupan Kalpataru. Konon, kedua mahkluk ini merupakan simbol kasih sayang. Mereka  menangis dan saling mencari ketika dipisahkan hingga bertemu di bawah pohon kehidupan. Relief kedua makhluk ini saya temukan di candi Prambanan (candi Hindu) , candi Sewu (candi Budha), candi Pawon (candi Budha)  dan candi Mendut (candi Budha). Sebenarnya, kisah-kisah dalam buku ini sebagian besar saya dapatkan selama bekerja di dunia pariwisata. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika cerita-ceritanya berkisah tentang toleransi akan keberagaman.
Album ‘Kesempatan’ karya General Manager hotel
       Rupanya, saya tidak seorang diri. Seorang general Manager (GM) hotel tempat bekerja sebelumnya pun  membuat sebuah album dengan judul Kesempatan. Sebut saja namanya pak Ale. Di sela-sela kesibukannya di dunia perhotelan, beliau masih saja sempat memikirkan anak-anak kurang beruntung. Mengetahui bahwa passionnya di alat-alat musik dan segala sesuatu berkaitan dengan musik, beliau pun menciptakan lagu-lagu. Bekerjasama dengan beberapa musikus tanah air, beliau mempersembahkan album ini untuk kegiatan charity dan bukti kecintaannya terhadap Indonesia.  Salah satu lagu dalam album ini berjudul I Love Indonesia.





           

Saya melihat pariwisata di masa depan akan menjadi jembatan untuk memahami keragaman bagi antar bangsa. Semoga semakin banyak pelaku di industri pariwisata, tidak memandang level jabatan, yang giat berkarya sesuai hobby maupun passionnya demi terciptanya pemahaman yang lebih mendalam tentang perbedaan.  

                        

Tuesday, June 27, 2017

Villa, Petuah Kinara-Kinari, Panti Asuhan Hindu Dalam Sebuah Kisah di Bulan Ramadhan

Hari sabtu, tanggal 17 Juni 2017 lalu, merupakan hari yang sangat mengesankan bagi saya. Salah seorang kawan, sebut saja bapak Angga, mengajak berkunjung ke panti asuhan Dharma Jati II di Penatih, Denpasar. Pak Angga ini merupakan kawan saya sewaktu bekerja di Mercure Resort Sanur tahun 2011-2013. Dunia hospitality mempertemukan kami kembali, kali ini dalam rangka kegiatan sosial.
            Jadi begini ceritanya, pak Angga kini bekerja sebagai operational manager di Lalasa Villa, Canggu. Sebuah Villa yang dimiliki oleh seorang pengusaha yang peduli dengan kegiatan sosial, yaitu kunjungan ke panti asuhan. Sesuai permintaan pemilik villa, setiap kunjungan harus beda panti dan lintas agama, seperti kunjungan ke panti asuhan kristiani (kunjungan pertama dan kedua). Dan kunjungan panti asuhan Hindu Dharma Jati II kali ini merupakan kali ketiga bagi beliau.
            Saya berpikir, partisipasi apa yang bisa saya lakukan. Kemudian saya teringat karya saya berjudul Petuah Kinara danKinari yang diterbitkan oleh IBC. Saya menghubungi penerbit untuk dicetakkan sepuluh buku dan mengirimkannya ke Bali via pos kilat. Tepat dua hari sebelum kegiatan, sepuluh buku sudah sampai.
            Hari sabtu, saya mengajak salah seorang kawan lagi di tempat bekerja yang baru, sebut saja namanya kak Titin. Lalu kami pun menuju Lalasa Villa dan bertemu pak Angga disana. Kemudian berangkat bersama pada jam 10.30 pagi.
Kak Titin, Saya, pak Angga dan tim Lalasa Villa,
 Pak I Wayan Nika
dan anak anak asuh Panti Asuhan Dharma Jati, Penatih
            Kami disambut anak-anak asuhan panti begitu tiba di sebuah rumah. Rumah yang asri dengan tanaman-tanaman merimbuni kanan-kiri jalan yang kami lewati. Rumah ini bergaya khas Bali dan memiliki sebuah hall yang lumayan lapang. Disana terdapat beberapa alat permainan anak-anak, seperti ayunan, perosotan, sepeda statis, dan yang mebuat saya bertanya-tanya adalah alat angkat besi.
Saya juga mendapati foto seorang jenderal TNI, lalu yang membuat bertanya-tanya adalah dua foto orang penting. Pertama,  foto mantan presiden Suharto yang sedang memberi sebuah penghargaan kepada seorang lelaki dengan tulisan: Penghargaan Satya Lencana. Kedua, foto mantan presiden Megawati Soekarnoputri yang mengepalkan tangan seolah memberi semangat kepada anak-anak bersama lelaki yang sama dengan foto sebelumnya. Lalu, pertanyaan saya, siapakah lelaki itu?
            Beliau adalah I wayan Nika, seorang guru yang mendirikan  panti asuhan ini. SEORANG GURU berhati mulia, rela menyisihkan gajinya, untuk mengasuh anak-anak yang bukan darah dagingnya  semenjak tiga puluh dua tahun yang lalu.
            Saya bertanya-tanya apa motivasi beliau mengasuh anak-anak tersebut. Beliau menjawab, “ya, saya melihat banyak anak-anak di Bali ini membutuhkan pertolongan. Sedangkan, saat itu, yang mau mengulurkan bantuan adalah pemeluk agama lain. Kenapa, saya sebagai tuan rumah di Bali, tidak mengambil tindakan serupa. Jadilah panti asuhan ini, hahahaha....”
            Saat itu umur pak Wayan Nika belumlah menginjak kepala empat. Tapi kepala beliau sudah diisi dengan segala rencana-rencana mulia. Sejak awal tahun 1980-an, beliau mengumpulkan anak-anak. Soal dana, beliau mengungkapkan bahwa ada saja jalan jika kita berniat tulus. Entah itu dari sumbangan donatur, entah itu penghasilan pribadi yang tidak disangka-sangka. Beliau juga tak jarang memberikan gajinya sebagai guru untuk menyokong kebutuhan anak-anak asuhnya.
            Tanda tanya saya tentang keberadaan alat latihan angkat besi di hall terjawab, pak Wayan Nika melatih angkat besi. Salah satu anak asuh telah mengukir prestasi hingga tingkat dunia dan sudah tidak perlu diasuh karena sudah ditanggung oleh negara. Beberapa anak asuhnya bahkan  berhasil mengenyam pendidikan tinggi bahkan hingga S2. “Ada pengalaman lucu, saya pernah bertemu seorang polisi di jalan dan tiba-tiba polisi itu menyalami saya sambil bertanya, bapak masih ingat saya? Rupanya itu anak asuh saya, hahahhaa....” tutur I Wayan Nika membuat kami turut tertawa.
            Kunjungan ini memang menyenangkan. Namun, di balik cerita sukses I Wayan Nika sebagai bapak asuh juga terdapat kisah-kisah duka, seperti anak-anak yang bandel. Saya baru tahu, tidak semua anak asuh I Wayan Nika merupakan yatim piatu. “Mereka ada yang memiliki orang tua, tetapi tidak mampu mengasuh karena alasan ekonomi. Saya coba bantu. Tapi kalau bandel, dan mengancam anak-anak asuh yang lain, ya, saya kembalikan. Mungkin anak bandel itu memang bukan disini tempatnya.”  Selain itu godaan sejumlah uang yang sangat fantastis pun sering menyambangi. Ada beberapa telpon yang menawarkan sejumlah besar imbalan untuk mengadopsi anak asuh, tapi ditolaknya. Bahkan pernah mendapatkan fitnah yang sangat keji pun pernah beliau hadapi.
            Segala rintangan tersebut tidak menyurutkan semangat I Wayan Nika untuk mengasuh anak kurang beruntung. Berkat kegigihan tersebut, beliau mendapat penghargaan Satya Lencana dari almarhum  Presiden RI kedua, Soeharto. Kemudian pernah diundang oleh presiden keempat RI, Megawati Soekarnoputri,  di sebuah acara makan malam. Itu belum penghargaan-penghargaan dari berbagai kalangan dalam dan luar negeri.
            Saya sangat senang bisa bertemu tokoh seperti I wayan Nika. Beliau sangat rendah hati meskipun penghargaan-penghargaan telah diterima. Bahkan, beliau tampak antusias menerima buku Petuah Kinara dan Kinari Kumpulan Cerita Anak sebagai bahan bacaan  anak-anak asuhnya.
            Beliau bahkan mengajak kami melihat kelas Kejar Paket yang biasa digunakan anak-anak asuh belajar. Ada perpustakaan mini di sampingnya. “Mas kan penulis, boleh ambil satu buku, mana tahu bisa memberi ide membuat buku anak-anak lagi hehehe....” Kami hanya tertawa.
            Padahal pak Wayan Nika serius hendak memberi. Semangat memberi dan mengasihi tanpa mengharap imbalan  memang sudah tertanam pada pria berusia 71 tahun ini. Buktinya sudah duaribuan anak  sudah diasuhnya. Jangankan minta imbalan kepada mereka, satu dari wajah mereka pun sudah lupa....
            Hari sabtu, tanggal 17 Juni 2017, memang hari keberuntungan bagi saya bisa bertemu orang sehebat  pak Wayan Nika.
           
           
           


Monday, May 22, 2017

Acha Acha ... Welcome to Little India !


Suasana di penyebrangan jalan Serangoon

                Kota India. Sekelebat tersirat dalam pandangan mungkin merujuk pada kota yang penuh sesak, bau rempah, panas, debu, debu, berisik oleh orang-orang yang bercakap penuh antusias. Lain halnya dengan Little India Singapura.
Selamat datang di wilayah Little India!
                Little , sebuah distrik yang dihuni oleh bangsa India. Oleh sebab itu, alkuturasi bangunan Cina-India, Arab, dan Melayu terasa kental pada bangunan-bangunannya. Lihatlah Serangoon Road, sebuah jalan yang kanan kirinya orang-orang berjualan perhiasan, bebungaan, baju-baju sari, dan restauran dengan masakan khas India. Tidak sulit untuk mendapatkan teh tarik, roti chanai dan masakan lainnya.

               
Salah satu nama hotel
yang unik
"Kerbau Hotel"
              Saya sempat mencicipi nasi biryani  yang tekstur nasinya memanjang dengan kuah bumbu rempah yang khas.  Lalu, kami mendapati  sebuah kuil di sebuah perempatan . Kuil Hindu ala Bali berbeda dengan kuil Hindu ala India. Persamaannya adalah mengerucut ke atas.  Dengan biaya kurang dari duapuluh dolar, sudah  bisa menikmati suasana india di bagian kecil negara Singapura ini.





#helmilaksono
#yoursingapore

Saturday, May 6, 2017

Ini di Cina? Jawabannya: Bukan!


      
Berselfie di atas
Jembatan Tiruan Bai Hong Qiao 
     Salah satu kawan saya nampak kebingungan menebak salah satu koleksi foto di instagram,  Ini di Cina?  Saya tertawa sembari menjawab, “Bukan.”






Tiruan Bai Hong Qiao dari kejauhan
Teman saya tadi masih penasaran.  Saya berfoto dengan latar belakang pagoda di Chinese Garden  Jurong East, Singapura. Kawan saya terkejut, sebab Singapore setahu dia hanyalah sekumpulan gedung tanpa tempat sedamai kampung. Selama ini, ia hanya menganggap Singapura sebagai negara transit saat berpergian tanpa mau melihat sisi lain negeri ini. Padahal tempat ini bebas bea masuk dan  bisa ditempuh kurang dari sejam menaiki MRT dari bandara Changi dengan biaya kurang dari empat dolar sekali jalan.

            Sebenarnya, Chinese Garden yang memiliki luas 13,5 hektare ini diidirikan pada tahun 1975  dengan arsitek bernama  Prof. Yuen-chen Yu. Selain taman bergaya kekaisaran  Tiongkok, taman ini menyajikan  koleksi bonsai dan seni suiseki khas Jepang. Sebab itulah, terlihat tanda panah yang menunjukan arah berlawanan ke kanan Japanese Garden, ke kiri Chinese Garden.  Kedua taman dihubungkan oleh jembatan bercat putih ‘Bai Hong Qiao’ yang meniru gaya 17-Arch Bridge di Summer Palace, Beijing. Selain bangunan cina klasik yang ciamik, pengunjung pun bisa bersenang senang di Live Turtle and Tortoise Museum, yang menjadi rumah bagi 200 lebih penyu dan kura-kura dari 60 spesies lebih.
Japanese Garden

            Nuansa Chinese Garden terasa dengan bangunan model kerajaan kuno negeri tirai bambu, seperti membawa pengunjung benar-benar berkeliling di istana kaisar  Cina. Selain itu, fasilitas seperti toilet umum dengan sentuhan arsitektur Cina. Yang menjadikan tempat ini benar-benar di Cina adalah pagoda, latar belakang saya berfoto. Pagoda tujuh lantai  itu sungguh menarik untuk dinaiki. Kita bisa melihat seluruh areal taman dan sebagian wilayah negara kota ini 360 derajat melalui puncak pagoda. Dan..., jepret sana jepret sini. Hasilnya beberapa foto selfie, lansekap pemandangan taman,  dan tangga Pagoda yang menyerupai labirin. 



Patung Hua Mulan, salah satu sosok
pahlawan sekaligus simbol feminisme di China 
Oh,iya..., pengetahuan saya tentang pahlawan legendaris Tiongkok kuno semakin terbuka dengan keberadaan patung-patung Confucius,  Hua Mulan, dan tokoh-tokoh lain di dekat Pagoda. Di bawah patung-patung itu terdapat keterangan mengenai tokoh patung. Misalnya Hua Mulan yang hidup pada kisaran tahun 386 sampai 436 setelah masehi, merupakan  seorang perempuan yang menyamar selama belasan tahun sebagai tentara lelaki menunjukkan bahwa perempuan memiliki kecerdasan, keberanian dan kemampuan yang sama dengan kaum pria. Saya sempat berkhayal, seandainya Indonesia memiliki taman-taman dengan tema daerah masing-masing dengan patung-patung  para pahlawan legendarisnya, pasti akan luar biasa.
         
            
Salah satu sudut pecinan 
Masih belum puas merasakan nuansa Cina di Chinese Garden, petualangan berlanjut di tempat lain seperti pecinan atau Chinatown. Kawasan ini ditempuh sekitar 30 menit dari Chinese Garden dengan MRT. Saya. Kawasan ini merupakan kawasan heritage tourism atau wilayah peninggalan pecinan jaman dulu di Singapura. Gedung pertokoan yang berasitektur cina pun  berderet rapi di wilayah ini dan layak untuk dijadikan latar selfie. Belum lagi, tempat-tempat  makan yang asyik seperti foodcourt di wilayah Smith Street. Harganya bervariasi, mulai dua  dolar  hingga delapan dolar per porsi. Sebelum meninggalkan pecinan, saya mampir ke toko yang menjual  sampel parfum orisinal dengan harga mulai 4 dolar.



Exit Gate Chinatown MRT station
            Saya pun kembali ke Bandara untuk melanjutkan perjalanan. Saya terkejut setelah menghitung pengeluaran. Saya hanya menghabiskan 15 sampai 20 dolar saja dengan berpuluh-puluh foto selfie yang bikin salah sangka.  Nah, jika transit di Changi atau berlibur ke Singapura, jangan lupa mencoba petualangan kecil tadi dan buat kawan-kawan anda penasaran dimana lokasi selfie... (Ini di Cina? Jawabannya: bukan!).  

oleh : #helmilaksono
#yoursingapore

            

Saturday, April 29, 2017

Tempat-Tempat Penawar Stress di Bali


            Bali merupakan tempat tinggal impian bagi saya sejak masih memakai seragam  sekolah biru putih. Toleransi yang tinggi, keramahan penduduk, keunikan budaya yang mampu membawa kita ke masa kejayaan Hindu, dan alamnya menjadi magnet tersendiri bagi pengunjung. Semakin banyak pengunjung, semakin macet, makin tinggi pula tingkat risiko terkena stress. Untungnya, Bali menawarkan beberapa tempat yang mampu menawarkannya.

            Bali baru saja menempati puncak destinasi terpopuler seasia  menurut Tripadvisor. Capaian ini tidak lepas dari kerja keras semua pihak, terutama masyarakat Bali sendiri. Banyak tempat-tempat hiburan di Bali yang menyajikan hiburan seperti night club, resto, resort, playing park, dan alam berupa pantai dan pegunungan yang bisa dijelajahi. Namun, tempat-tempat pelepas stress tadi masih dianggap oleh sebagian orang sebagai tempat prestisius dan sukar dijangkau. Saya misalnya, bekerja di hotel dengan lima hari kerja dua hari libur, masih pikir-pikir untuk menjelajahi tempat-tempat itu.

Lapangan Puputan yang 
dilengkapi arena bermain sekaligus berolahraga untuk anak-anak
            Suatu pagi pada hari sabtu, saya mendapat pesan singkat dari salah satu rekan kerja. Sebut saja namanya kak Titin. Ia mengajak jogging, sebab tidak seru jogging sendirian. Kami pun menuju ke lapangan Puputan jam tujuh pagi. Lapangan dengan luas lebih dari 35,000 meter persegi ini merupakan titik nol kilometer kota Denpasar. Disana kami menemukan banyak orang yang juga berolahraga, seperti jogging, main sepeda statik, latihan beban dan sepak bola.  Lapangan ini memang dilengkapi dengan area  yang berfungsi sebagai tempat bermain maupun berolahraga. Bahkan, saya melihat beberapa grup siswa sekolah yang mengelilingi guru olahraga masing-masing.


Suasana Jalan Gadjahmada Denpasar sungguh lengang
 dan asyik untuk jogging sambil bernostalgia
            Setelah puas mengelilingi lapangan puputan, kami berdua menyempatkan menelusuri jalan Gajahmada. Kami mendapati bangunan pertokoan yang berusia tua dan memiliki arsitektur Bali jadul. Sensasi bernostalgia tak hanya sampai disitu, kami mendapati patung caturmuka yang legendaris.


            Sabtu berikutnya, kami berangkat pagi-pagi lagi untuk jogging. Kali ini, tujuannya adalah hutan Mangrove tak jauh dari simpang Dewa Ruci, Kuta. Hanya dengan membayar tiket masuk sepuluhribu rupiah, kami bisa mengakses salah satu titik kawasan mangrove yang ada di Bali. Pagi hari masih sepi, sehingga kami bisa betul-betul menikmati segarnya oksigen sepuasnya di sepanjang jalan. Oh ya, jalanan berupa kayu-kayu yang ditata menembus rerimbunan mangrove. Setelah puas, kami jogging di jalanan beraspal. Kanan dan kiri rerimbunan mangrove pun masih saja menghiasi.

Air laut yang menghantam karang

 dan menyembur ke atas 
menjadi pemandangan alam yang unik di Nusa Dua Bali
            Sabtu depannya, kami mengelilingi kawasan  Bali Tourism Developement Corporation atau yang disingkat BTDC. Kawasan ini berada di wilayah Nusadua, kecamatan Kuta selatan. Dan inilah yang kami temui: jogging track di kawasan resort, taman dengan air mancur dan... waterblow. Sebelum  pindah tempat tinggal ke Denpasar, saya sudah mengenal tempat ini. Gulungan ombak yang menghantam karang menciptakan air yang menyembur  ke atas  dengan dahsyatnya. Pagi itu, sungguh berarti buat saya. Saya tidak menyangka, hiburan tanpa berbayar ini mampu melepaskan stress akibat penatnya beraktivitas selama seminggu sebagai receptionist hotel Courtyard by Marriott Bali Seminyak sekaligus mahasiswa Kajian Ilmu Pariwisata Universitas Udayana.
            Demikian, setiap libur saya jogging bersama kawan di tempat yang berbeda. Dampaknya luar biasa, kreatifitas saya meningkat dan beban stress saya lepas entah kemana dan saya siap memulai hari baru. Semua yang saya dapatkan ini sangat-sangat murah, hanya modal bensin sepeda motor.  

            

Saturday, April 23, 2016

BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...

BALI MON EVEIL: Seminyak O Seminyak...: Pulau Dewata menebar pesona dengan pura dan alamnya Belum lagi keramahan penduduk  yang melenakan hati Lupa dari hari yang tela...